Tampilkan postingan dengan label #catatanput. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #catatanput. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Maret 2015

ngegado doeloe pagi ini

pagi pagi gini emang enak ngegado. Pake pedes. Pake banyak. Dan pake berdua *eciee #salahfokus
wokeh sebelum panjang kali lebar kali tinggi, saya mau ngucapin minal aidin wal faizin, mohon maap lahir batin sebab lama tak menelurkan celotehan di sinih.
ini beneran udah lama banged gak nge-post. Terakhir nge-post Oktober 2014. Dan sekarang udah Maret 2015. Dan belum lulus pula dari kampus. Hellooooouuuuu kemana aja, Put? Dengan santai, "Gak kemana-mana. Kamu aja yang kelayapan." #gubrak #gagalfokus

Sebenernya saya syedih karna menghilang begitu saja dari dunia blog. Padahal, saya bertekad untuk mempertahankan eksistensi saya di sini. Setidaknya, mendokumentasikan sesuatu dalam tulisan itu bermanfaat. Insya Allah.

Saat ini, saya sedang berada di Pekanbaru. Eitss tunggu dulu. Ini hanya sementara kok.
Jadi ceritanya akhir Januari 2015, saya dipercaya untuk mengajar di NF Pekanbaru. Dan setiap minggu, mengarungi Jambi--Riau selama lima minggu. Yuhuuuu bener-bener kehidupan saya berubah. Kesibukannya agak meningkat. Jarang ngampus. Jarang ketemu temen. Bahkan, di rumah pun cuma sebates numpang di tidur. Di situ kadang saya ngerasa syedih. But, it's life.
Kesempatan itu datengnya cuma sekali dan gak tau apakah bakal dateng lagi kalo ditolak. Berdasarkan kalimat itu, saya terima tawaran mengajar di Pekanbaru itu. Jadi terjadilah itu. 
Sejauh ini sih saya nyaman-nyaman aja. Alhamdulillah masih diberikan kesehatan dan kenikmatan yang tak terkira dari-Nya. Makasi ya Allah *sujud syukur*
Sampai saat ini, saya berusaha untuk mengatur waktu antara kampus dan pekerjaan. Sungguh tak mudah. Tapi kalau gak berani nyoba, yaa gak bakal kelar. So, siapkan dirimu, Put! You can do it!

Sebelum ke Pekanbaru, saya melancong sejenak ke Palembang. Hap! Itu pun karena NF. Sebenernya udah jadi perjalanan rutin tiap semester. Tiap akhir semester, saya bersama teman-teman pengajar NF Jambi ntuh raker ke Palembang. Rakernya sih tiga hari. Tapi karna saya belum menelusuri lekuk tubuh si Palembang, jadi yaa gitu. Nyolong start hihi
Nah mau tau gimana serunya perjalanan saya di Palembang dan juga di Riau? *semoga mau yaa dan harus mau!*
Tungguin aja
and
stay close
^^

Rabu, 15 Oktober 2014

After The Honeymoon -- Ollie




Judul: After The Honeymoon (Drama Baru Dimulai Seusai Pesta)
Penulis: Ollie
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2009 (cetakan pertama)
Jumlah halaman: vi + 238 halaman


Novel ini mengungkapkan sesuatu terjadi setelah honeymoon (sesuai dengan judul) :D. Saya kira, “sesuatu” itu akan terjadi setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun karena permasalahan anak yang tak kunjung diberi-Nya, ekonomi, atau mertua yang tak cocok dengan menantu. Namun, perkiraan saya meleset. Justru tepat setelah pulang honeymoon, ketidaknyamanan mulai terasa.
Setiba di kantor –setelah pulang dari honeymoon—, Ata sudah diminta pertanggungjawaban atas pekerjaannya. Terlebih lagi, ia mendapatkan promosi sehingga jam kerjanya akan berlebih. Itu artinya ia akan sering lembur dan waktu di rumah akan berkurang. Padahal keinginannya dulu, setelah menikah ingin menjadi ibu rumah tangga yang memiliki bisnis kecil-kecilan. Tapi apa mau dikata, ia tetap mensyukuri rezeki dan itu bisa membantu keuangan keluarga. Bukan berarti Barra tidak bekerja. Ia bekerja tetapi penghasilannya tidak melebihi Ata. Selain diminta pertanggungjawaban, Ata juga telah ditunggu oleh tagihan-tagihan yang menumpuk (cicilan rumah, listrik, air, asuransi mobil, dsb). Dan Ata mulai stress. Kenapa? Karna ia yang akan membayar semua tagihan itu. Penghasilan Barra sudah habis untuk membayar keinginannya mendapatkan gadget terbaru.
          Ia pikir, cinta akan membuat segalanya lebih mudah, termasuk pembagian tanggung jawab urusan financial. Tidak perlu terlalu kaku, apalagi sampai membuat peraturan. Namun, ternyata dia terbukti salah. Sekarang, Ata merasakan beban berat yang harus ditanggungnya. (hal:16)

Ata dan Barra baru saja melangsungkan pernikahan yang awalnya sulit untuk dilaksanakan karena masing-masing orang tua mereka kurang setuju. Tapi semua berjalan normal. Kini, mereka tinggal di sebuah rumah yang berada di pinggiran Jakarta yang cukup memakan waktu di jalan untuk pulang pergi ke kantor mereka. Dan Ata yang menyetir.
Tak lama kemudian, Ata pun hamil. Perdebatan terjadi. Barra enggan tinggal bersama mertuanya, terlebih mendengar omongan Rey, teman kantornya. Akhirnya, Barra mengalah. Hari pertama di rumah mertua, Barra sudah merasa terusik. Dimulai dari ketokan pintu di pagi hari dari sang mertua. Lalu, duduk berdua di teras rumah sambil menikmati mangga muda. Ditambah lagi dengan kedatangan pakde dan bude Ata dari Jawa Tengah dan Ata seorang diri yang menjemput mereka di stasiun kereta.
Ata terkejut. Tabungan bersamanya hanya tersisa seratus ribu rupiah. Ternyata, suaminya telah “mencuri” tabungan bersama mereka untuk menanam investasi kelapa sawit yang ditawarkan Matthew, kakak ipar Barra. Perang sengit terjadi antara Ata dan Barra. Ata tidak mengerti kenapa Barra memercayai kakak iparnya yang jelas-jelas sering melakukan penipuan. Saat itu juga Barra pergi dari rumah. Meninggalkan Ata yang berbadan dua.
Cerita lain, Widi mengetahui bahwa suaminya, yang merasa Widi tak lagi menghiraukan dia, telah bermain api dengan perempuan bernama Stella. Namun Widi tetap mempertahankan rumah tangganya dengan berpura-pura bahagia di hadapan orang tua dan adiknya. Sampai pada akhirnya, Widi masuk rumah sakit karena mencoba bunuh diri, melukai urat nadinya. Ata tak menyangka kakaknya, seorang istri dan ibu yang bahagia, bisa melakukan hal itu. Justru selama ini Ata iri dengan keharmonisan rumah tangga kakaknya.
Sebulan berlalu, Barra berkelana ke Solo, lebih tepatnya meminta pekerjaanya dialihkan ke perusahaan di Solo. Di sana memiliki sekretaris cantik bernama Putri. Barra mulai merasakan keanehan ketika sedang bersama Putri.
Selama proses penyembuhan Widi, Ata, yang berusaha tegar ketika rumah tangganya diambang perpisahan, selalu menemani. Jeff tak menampakkan diri. Sesakit apa pun hatinya, Widi tetap menunjukkan rasa kasih sayangnya dengan mengirim pesan selamat ulang tahun pada Jeff. Di sanalah, awal mula proses mereka untuk belajar memperbaiki pondasi yang hampir runtuh.
Barra hanya dua minggu di Solo. Lalu kembali ke Jakarta, berniat mengajak kembali Ata. Namun niat baiknya tidak ditanggapi baik oleh keluarga Ata. Mereka pun terpisah (lagi) tanpa sempat diberi waktu berdua.
Mereka pun bertemu. Ata dan Barra (dengan bantuan Widi dan Jeff). Di Taman Suropati, tempat favorit mereka. Berjanji akan terus bersama walaupun orang tua tidak menyetujui. Semacam backstreet. Rutin bertemu. Barra menemani istrinya memeriksa kandungan. Seminggu sekali menikmati kasur di rumah mereka sendiri. Dan menemukan solusi untuk kebaikan rumah tangganya: Barra belajar menyetir, Ata belajar memasak, kejujuran dalam keuangan, Ata mengurangi jadwal di kantor, dan keinginan Barra pada gadget terbaru yang menggiurkan.
Mereka dianugerahi anak ketika kandungan Ata berusia tujuh bulan. Seorang bayi laki-laki.

***

Hal pertama yang membuat saya tertarik untuk mendekati novel ini ialah sampul novel. Terkesan elegan. Gambar yang disajikan berasa putri raja J
Sudut pandang yang digunakan orang ketiga. Alur cerita yang disajikan cukup menarik, menarik ulur kita terhadap peristiwa yang diberikan. Cerita yang disajikan juga ada dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata rumah tangga yang sudah diujung tanduk bisa diselamatkan. Intinya, sama-sama mau belajar dan sama-sama bertahan. Saya belajar bagaimana menjadi seorang istri kelak jika saya sudah mengemban kewajiban tersebut. Memang ada banyak hal yang harus diperhitungkan ketika kita melangkahkan kaki ke “dunia baru” bersama pasangan kita. Perlu kesabaran, komunikasi, kejujuran, dan kebersamaan untuk terus mengenggam apa yang sudah dijanjikan.
Bahasa yang digunakan membuat saya nyaman, mudah dipahami. Tokoh-tokoh yang disajikan juga realita, ada di sekitar kita. Saya salut dengan tokoh Widi. Seorang wanita kuat yang mau mempertahankan keluarganya walaupun dia sempat mencoba “pergi”. Itu sangat disayangkan. Sepertinya ia tak sanggup lagi menanggung bebannya. Sedangkan tokoh Ata dengan ketangguhannya menanggung semua tagihan yang ada karena penghasilan suaminya tidak begitu mampu membantu. Namun, tokoh Barra dan Jeff terjadi perubahan tingkah laku. Barra menyesali tingkah laku seenaknya yang menyusahkan istrinya dan Jeff juga tak lagi bermain dengan Stella. Dalam novel ini, saya tidak suka dengan tokoh Reynold yang menjadi kompor bagi Barra. Pun tokoh orang tua, terlebih pada Nyonya Soemardjan, ibu dari Barra. Novel ini sukses membuat saya geram pada Rey dan Nyonya Soemardjan.
Yang membuat saya kurang nyaman adalah akhir dari kisah ini. Tidak dijelaskan apakah mereka rujuk, bagaimana tanggapan orang tua Barra setelah lahirnya bayi laki-laki Ata dan Barra. Ending terbuka.
Novel ini tepat dibaca bagi teman-teman yang akan atau sedang memasuki kehidupan baru bersama pasangan hidupnya. Terlebih lagi, teruntuk teman-teman yang sedang mengalami permasalahan.
Kisah ini mengajarkan kita untuk tetap kuat ketika permasalahan rumah tangga menerpa. Butuh proses untuk mencapai puncak. Sama seperti kehidupan baru bersama pasangan, perlu tahap untuk mengenal kata “utuh”. Saya yakin, untuk berbicara memang mudah tetapi sukar dilaksanakan. Sadarlah, bahwa Sang Pencipta memiliki segala keajaiban untuk kita ^^

Sabtu, 11 Oktober 2014

dua tahun telah berlalu


Hal yang menenangkan hati itu adalah siaran, salah satu dari beberapa hal. Kenapa begitu? Karena dengan siaran, saya bisa berbagi pengetahuan, apa pun itu, dan juga menyajikan lagu-lagu yang diharapkan bisa menemani pendengar yang sedang beraktivitas. Berada di dunia broadcasting itu ternyata banyak cerita dan kisah: menambah pengetahun. Ada ucapan yang haram dikatakan saat siaran, lalu juga harus mempunyai etika. Sebelum siaran sebaiknya udah nyiapin naskah siaran biar siarannya lebih teratur.
Alhamdulillah, dua tahun sudah belajar di Dian Irama FM, lebih tepatnya tanggal 15 Juli. Gak berasa yaa dua tahun itu ternyata berlalu begitu cepat. Dua tahun yang berlalu dengan derasnya dan saya sebagai penikmatnya. Banyak pengalaman, itu pasti. Banyak pengetahuan, yaa itu iya juga karena dunia broadcasting adalah dunia baru yang mulai saya dalami sejak diterima sebagai penyiar di Dian Irama FM. Pun ternyata dua tahun bukan waktu yang cukup untuk membuat saya paham tentang segala sesuatu tentang penyiaran. Belum cukup puas, kawan. Masih banyak yang belum saya tahu dan pahami. Masih banyak kekurangan yang (sering) saya lakukan selama siaran. Dan masih banyak hal yang harus saya gali.

(ini siaran di gedung lama DIRA FM, daerah Simpang Kawat)

(nah nyang ini gedung baru DIRA FM, daerah Thehok)

Selama dua tahun saya berusaha untuk menjadi penyiar yang bisa diterima oleh pendengar; penyiar yang membuat pendengar nyaman; penyiar yang friendly, baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung hehe; penyiar yang memberikan syemangat pagik; penyiar yang ngasi informasi gak setengah-setengah; penyiar yang sepenuhnya untuk pendengar. Tapi itu hanya harapan saya yang sudah diusahakan selama ini. Untuk penilaian, saya serahkan seutuhnya kepada pendengar.
Selama dua tahun ini pula saya hampir merasakan semua suasana; syemangat, syedih, ngantuk, capek, bahagia, terharu, bete, jengkel, syeru, kocak, dan sebagainya. Gimana gak coba? Tiap siaran itu pasti bawaannya beda-beda. Misalnya, kalo siaran pagi dan siarannya sendirian itu rasanya nano-nano. Satu sisi harus syemangat karna yang namanya siaran pagi itu memberikan syemangat sama pendengar supaya mengawali pagi itu dengan sebuah senyuman dan juga syemangat yang luar biasa supaya sepanjang hari akan menjadi hari yang luar biasa juga. Tapi di sisi lain, nge-bete-in kalo off air, gak ada temen ngobrol, mana masih ngantuk, mana belum sarapan (kadang-kadang sih), dan kadang belom mandi jugak (eits tapi lebih sering mandi keleus). Yaa itulah nikmaanya siaran pagi.
Nah akan berbeda ceritanya kalo siaran pagi dan ada temennya. Itu mah asyik dan syeru beud. Dan siarannya pun lebih focus (baca: kacau). Gimana gak kacau? Yang namanya siaran tendem, itu pasti obrolannya melanglang buana entah kemana tapi tetep kok akan kembali ke topic pembicaraan. But it’s fun. Apalagi kalo off air, bakal ngobrol-ngobrol biar gak tambah ngantuk ahaha. Ngomongin siaran pagi, saya pernah tendem sama beberapa temen yang lain, kak Aryn misalnya.
Selain siaran pagi, saya juga pernah siaran siang. Siaran siang itu lebih memberikan informasi aja sih. Kalau menurut saya sih yaa, lebih enak sendiri karna agak sulit untuk pembagiannya (jeilah berasa bagi sembako). Lain cerita lagi kalo siaran sore. Ini lebih berinteraksi sama pendengar karena program kirim salam dan request lagu. Dan gak semua lagu juga yang diputerin karena waktunya gak cukup hoho. Dan siaran malam pun pernah saya jelajahi, jam 9 malam batesnya. Siaran malem itu sesuatu, apalagi malem minggu *ehh maksudnya Sabtu malam hehe. Sebenernya pengen sih siaran sampe jam 12 malem tapi keadaan gak memungkinkan. Well, siaran malem tuh saya jalanin ketika masih di gedung lama, daerah Simpang Kawat. Dan berhubung sekarang lokasi studio tambah jauh, daerah Thehok, saya off untuk siaran malem. Tapi sesekali sempet juga ngerasain siaran malem di gedung baru hehe. Yap, hanya sesekali. Tapi anehnya, walopun gak siaran malem dan ada meeting atau ngumpul sama temen-temen di radio, pulangnya lebih sering malem. Yaa begitulah yaa, kalo udah ketemu gak kenal waktu J
Ngomongin dunia penyiaran, pasti ada team yang bergerak untuk terus menopangnya. Tapi “team” yang saya temui, baru saya rasakan setahun ini. Semangat yang terus berkobar dan seakan tak pernah mati. Semangat yang membuat saya ingin terus berada dalam lingkarannya. Semangat untuk terus bangkit di saat semua tak bersahabat. Bukan sekadar team, melainkan sudah membentuk jalinan persahabatan bahkan persaudaraan. Saya bangga sudah mengenal mereka. Bangga memiliki mereka. Terima kasih Allah karena Engkau telah mempertemukan hamba dengan orang-orang yang hebat.
Yap, inilah “team” yang saya maksud
(ini foto diambil tanggal 15 Juni 2013)


(nah kalo nyang ini, waktu bulan puasa taun ini, 2014)


Bersama mereka, selalu ada hal-hal kecil yang menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Bersama mereka pun saya mengerti bahwa tidak mudah untuk menyatukan pendapat.
Kurang lebih satu tahun sudah kebersamaan ini. Dalam waktu yang singkat itu pula sudah membuat satu sama lain memahami.

Saya akan membahas kebersamaan kami di postingan yang berbeda karena kami special (gak pake telor yak) :D

Selasa, 24 Juni 2014

"kesempatan" dari sudut lain


Aku belajar tentang kesempatan. Belajar tentang itu dari “Sunset Bersama Rosie”-nya Tere Liye.
Dari awal pertama baca, novel itu seperti punya daya magis tersendiri. Selalu membuatku mempunyai waktu untuk menyentuhnya dan memasukinya lebih dalam lagi.
Kesempatan. Apa itu kesempatan? Apakah kesempatan itu sesuatu yang kita buat sendiri? Atau sesuatu yang datang tanpa disadari?
Pasti banyak persepsi tentang kesempatan. Seperti yang diungkap oleh Tere Liye, “Begitulah. Jauh Lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang hanya selintas terjadinya. Bahkan dalam banyak kesempatan jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang sepantasnya terjadi tapi kita tidak membuatnya terjadi, meski kita bisa dengan mudah membuatnya terjadi.”
Dari rangkaian kalimat itu, bisa diartikan begini, walaupun ada banyak kesempatan yang menyinggahi, tetapi jika kita tidak menyambutnya dan membiarkannya berlalu begitu saja, ya itu kesempatan itu tidak akan nyata. Justru kesempatan itu akan berlanjut dalam angan, bukan konkret. Dan itu lebih menyenangkan.
Ada perincian kenapa hal seperti itu bisa menyenangkan. Tere Liye menyontohkan begini, ada seorang pemuda yang memerlukan persiapan enam bulan untuk melakukan pendakian ke puncak Jaya Wijaya. Tiba saatnya pendakian dan hanya tinggal seratus meter menuju puncak, ia justru memutuskan untuk turun. Itu artinya apa? Dia tidak melanjutkan perjalanan.  Perjalanan yang seharusnya bisa membanggakan dirinya karena persiapannya selama ini tidak sia-sia. Perjalanan yang seharusnya terbayarkan dengan pemandangan yang indah. Perjalanan yang seharusnya menjadi kenangan indah selama hidupnya. Akan tetapi, pemuda itu merasa lebih menyenangkan ketika dikenang bahwa dia pernah mempunyai kesempatan itu. Dan memutuskan untuk menebak sendiri apa yang akan dirasakannya jika sampai puncak Jaya Wijaya tersebut. Membayangkan seperti apa hebatnya perasaan itu akan jauh lebih hebat dibandingkan kalau aku benar-benar tiba di sana, itu katanya.
Nahloh, kalau menurutmu gimana? Merasa aneh dengan pernyataan itu? Begitu pun saya.
Ada juga pemahaman yang lain. Misalnya begini, seperti yang ada dalam cerita “Sunset Bersama Rosie”, bahwa Tegar tidak punya kekuatan yang cukup untuk mengatakan perasaannya pada Rosie sehingga 20 tahun Tegar sebanding dengan 2 bulan Nathan. Yang pada akhirnya, Rosie menikah dengan Nathan. Padahal tanpa diketahui Tegar, ternyata Rosie juga memiliki rasa itu dan sempat menunda pernikannya selama enam bulan hanya untuk menunggu Tegar.
Baiklah, Jika kita tidak pernah berani membuat kesempatan, hilanglah semuanya. Kurang lebih seperti itu pengertiannya. Jadi, setidaknya cobalah untuk berani membuka kesempatan itu dengan tangan sendiri.
Namun ada juga pemahaman yang berbeda. Terkadang kita sudah berani membuka kesempatan itu dengan tangan sendiri –atau dengan tangan orang lain–, justru kesempatan itu hilang. Atau ketika kita sudah mempersiapkan semuanya dengan matang dan siap menyelesaikan kesempatan itu. Akan tetapi, kesempatan itu yang tak mau diselesaikan. Dan kita kecewa. Atau bisa juga, ketika telah menyelesaikan kesempatan itu, justru tidak semenyenangkan pikiran kita. Terkecuali atas kehendak-Nya.
Ya, jika Dia menghendaki, semua kesempatan akan selalu ada.

Selasa, 14 Januari 2014

indahnya ka ranah minang

awal tahun ini alhamdulillah bisa menginjakkan kaki ke ranah minang.
sebenernya gak ada rencana, lebih tepatnya dadakan.
jadi gini ceritanya, adik saya yang berusia 14 tahun ingin ke Batu Sangkar seorang diri tetapi sebagai kakak yang sayang pada adiknya, tidak tega membiarkan adiknya pergi seorang diri ^^
Jumat (3/1/14) malam saya memutuskan bahwa esok hari saya akan menemani adik saya ke ranah minang. Ini benar benar keputusan berat (seberat apa aja deh).
Keberangkatan pun terjadi. Saya berencana hanya mengantar saja dan Selasa udah balik lagi ke Jambi karena kerjaan menunggu *cieee berasa sibuk aje*
okeh sampailah di Sangka sekitar jam setengah sepuluh malam. Dan istirahat pilihan terbaik.
Tidak banyak berubah. Terakhir kali saya ke Sangka itu Idul Adha tahun 2012 lalu. Dan ini kedua kalinya kedatangan saya sejak nenek tiada. Sedih itu pasti karena ketiadaan nenek terasa aneh jika berada di Sangka. Tapi apalah daya. Ini pilihan terbaik Allah. Semoga nenek tenang di sisi-Nya.
Hari kedua mengunjungi rumah etek Vera, adik bungsu ibu, di daerah Pagaruyung. Menuju rumah etek Vera melewati Istano Pagaruyung. Entah berapa kali saya sudah melewati Istano Pagaruyung tapi belum pernah saya mampir ke sana. Ini seriusan loh. Syedih amat yak. But it's ok. Suatu waktu bisa kali ke sana. Amin.
Ini hari kedua itu artinya hari Senin dan itu artinya besok kembali ke Jambi.
Setelah seharian di rumah etek Vera mengubah kepulangan saya. *tepok jidat* kenapa bisa? yaa bisa dongg. Pasangan yang mau nikah aja bisa gak jadi nikah *lho kenapa ngebahas ini?* #tepokJidat
*okeh kembali ke topik*
Berhubung Kamis baru balik ke Jambi. Jadi saya menikmati Balai Baa di hari Baa. Kalo urang minang lai tau arti kalimat itu hihi.
tapi Indonesia itu kan berbagai suku ya jadi gak semua ngerti bahaso minang.
nah kalimat ntuh artinya "Pasar Rabu di hari Rabu".
Di Sungai Tarab memang ada pasar hanya buka satu kali dalam seminggu, Pasar Rabu. Di sana berbagai macam yang dijual: bahan makanan, makanan ringan khas ranah minang, peralatan sekolah, barang pecah-belah, dan masih banyak lagi.
Rabu malam disibukkan dengan acara pertemuan dua keluarga karena adik sepupu saya akan melaksanakan pernikahan. Insya allah akhir Februari akan diselenggarakan.
Dan tinggal saya seorang diri yang belum menikah karena sepupu yang "gede" udah pada nikah. tapi gpp. Menurut saya, tiap orang itu punya rel masing-masing.
Hal ini membuat saya flashback. Dulu saya ingin sekali menjadi penyiar dan alhamdulillah diberi jalan pertengahan tahun 2012 saya diterima sebagai penyiar DIRA FM. Lalu saya ada niat setelah kukerta ingin mengajar di sebuah bimbel. Dan a saya pun kembali diberi jalan oleh-Nya, alhamdulillah saya diterima sebagai pengajar Nurul Fikri Jambi. Saya menyadari bahwa apa pun yang kita inginkan --selama itu baik-- insya allah akan diberi jalan dan kemudahan oleh-Nya. Tentunya semua itu membutuhkan proses.
Begitu juga dengan menikah. Jika memang ada niat, walaupun belum ada calon, insya allah akan dipertemukan dengan pasangan hidup oleh-Nya.
okeh Kamis pun tiba. Saya kembali ke Jambi. Kembali dengan kegiatan.
Oh iya, selama di ranah minang, hati saya tak menentu. Berhubung pergi mendadak jadi saya meninggalkan jadwal siaran tanpa pengganti, alhasil selama di ranah minang berusaha mencari pengganti. Alhamdulillah ada yang bersedia menggantikan tapi ada juga yang tidak bisa. Namanya juga manusia, pasti punya kegiatan masing-masing. Saya memakluminya.
Walaupun tidak terlalu lama di ranah minang, itu sudah cukup bagi saya karena udara di sana sudah membuat saya nyaman, terlebih lagi pemandangannya.
Jika masih ada umur panjang, ingin menjelajahi ranah minang lebih luas.

Sabtu, 09 Maret 2013

koridor


setiap yang terasa dan teraba –bahkan imajinasi- selalu kuukir di koridor ini.
Bukan bermaksud memenuhi koridor sehingga terlihat kotor dan mengganggu kalian, tapi aku hanya ingin koridor ini menjadi sejarah dan akan terlihat jika ingin dilihat –bisa jadi diamati-.
Secara detail kuurai di sepanjang koridor, apapun itu.
Setiap kisah –yang terukir- punya kunci masing masing sehingga akan mudah untuk membuat denah langkahku.
Kenapa harus memiliki kunci masing masing? Sebab jika dipadukan akan berbaur dan sulit memilah kisah mana saja yang (telah) terukir. Setidaknya dengan adanya kunci, maka akan ada keistimewaan tersendiri pada tiap kisahnya.
Ada satu kisah yang saat ini sempat membuat “menganga”. Kunci untuk kisah itu telah saya buat sedemikian rupa sehingga sulit diterka –menurut saya-
Kisah ini mengenai “masakan” yang telah lama kuracik bahkan bisa saja disantap. Namun santapan ini bukan sembarang tempat dan waktu, bahkan ruang.
Terakhir mengukir kisah itu beberapa bulan yang lalu. Dan apa yang membuat “menganga”?
 Kunci untuk kisah itu entah kenapa digunakan oleh dia –yang sebenarnya termasuk bagian dari kisah itu-, walaupun memang sedikit –benar benar sedikit- berbeda tapi tetap saja ini membuat menganga.
Seperti tidak ada orang lain lagi dan seperti tidak ada kunci yang lain sehingga harus menggunakan kunci yang sama.
Tolonglah, kenapa seperti ini.
Malam, jika kau bisa menjawab segala tanyaku, kenapa harus bertanya padanya? Namun jika jawaban itu kau serahkan padanya, lebih baik cukup menyimpan pertanyaannya saja. Cukup bagiku.
Jika memang ada rahasia, jangan biarkan terlalu lama disembunyikan, nanti malah tak sedap lagi.
Tapi.
Atau bisa saja, dia memang memiliki kunci itu untuk kisah lain yang tanpa melibatkanku? Ya bisa saja, siapa yang tahu
Ah sudahlah!
Aku bisa apa

Kamis, 07 Februari 2013

Pergi bukan meninggalkan


Pergi bukan berarti meninggalkan. Langkah kaki yang semakin jauh bukan berarti hanya meninggalkan jejak lalu terhapus oleh debu, justru dengan jejak itulah bisa menjadi kompas untuk kembali.
***
Juni telah usai. Telah berlalu dengan kenangan, entah itu kenangan atau hanya sekadar angin lalu yang tidak terasa kelembutannya. Telah berakhir dengan segala putusan, yang entah dimana letaknya. Namun apakah penderitaan telah berujung? Tidak!

Selasa, 05 Februari 2013

Telatkah?


Okee Februari udah dateng
Selamat datang!
Tak terasa udah memasuki bulan kedua aja
Dan saya masih di sini, belum bergerak
Oh My God! Tolong beri petunjuk biar cepat bergerak seperti yang lain
Sebab saya ingin seperti mereka, yang telah beranjak ke tangga yang lain
Yap semoga saja Februari akan menjadi tempat yang terbaik dan terkenang #Amin

Well hari ini tuh kan udah tanggal lima
Telat gag sih ngucapin selamat datang?
Yap telat gag telat sih kayaknya gag dehh
Ahaha
*sssstttt gag boleh komen :)

Kamis, 31 Januari 2013

Kamis Penghujung Bulan

Kamis, gimana kabarmu menyambut Februari?
apa kamu sedih? sedih karena tidak bisa menemani Januari, sedih karena selama Januari ini tidak berbuat apa-apa, sedih karena tidak ada yang bisa dibanggakan selama Januari ini, sedih karena target tidak tercapai.
atau kamu malah bersorak sorai menyambut Februari?
gembira karena kamu akan bertemu Februari, gembira karena akan ada kejutan yang ingin dilakukan

yap bagaimanapun yang kamu rasakan semoga saja yang terbaik untukmu
karena apa? karena aku sendiri pun tidak tahu harus bersorak sorai menyambut Februari
atau harus berderai air mata
ahh entahlah
bukan aku pesimis
tapi

terima kasih kamis
telah mengantarku sampai di penghujung bulan
semoga kita bertemu kembali

Sabtu, 26 Januari 2013

lieb mich noch einmal

halooooo wie geht's? (apa kabar?) :)
hehe maap yak *bukan memongahkan diri
entah kenapa akhir akhir ini saya lagi rindu dengan salah satu bahasa yang pernah dipelajari ketika putih abu-abu #Deutsch #Germany #Jerman
yap, waktu putih abu abu -tepatnya kelas dua dan tiga- saya mempelajari bahasa #Jerman di sekolah.
karena apa? karena jurusan saya #BAHASA, jadi salah satu keunggulan jurusan itu, mempelajari bahasa #Jerman
I love it *_^
dan hari ini saya merindukan ituu -belajar bersama, menulis bersama, latihan bersama, dan menyanyi bersama-
hayoooo pada bingung kan kenapa menyanyi bersama?
yaahhh waktu kelas tiga kan ada les tambahan gitu dari sekolah, nah saat itulah frau (bahasa Indonesia: guru) mendengarkan beberapa lagu #Jerman (entah itu waktu les atau gag yaa hehe saya lupa)
tapi dari beberapa lagu itu hanya ada satu lagu yang saya tulis lirik lagunya
sumpah demi apa, ntuh lagu keren nian
"Lieb Mich Noch Einmal" (Sayangi Aku Sekali Lagi) -setau saya sihh itu artinyaa-
nahh maka dari itu, berhubung lagi rindu dengan lagu itu -dan bisa aja mengenang masa putih abu abu-, saya cari dehh di mbah google,
ada satu lagu yang saya dapet, judulnya "Vergiss Mich Wenn Du Kannst" (Lupakan Aku Jika Kamu Bisa), lagu ini juga keren kok
mau dengerin? yaudah ke sini ajaa :)
tapi ehh tapi ehh tapi "Lieb Mich Noch Einmal" susah amat ngedapetinnyaa
sekalinyaa dapet ehhh bukan ntuh lagu yang saya cari *ohh so sad :(
tapi tenang aja, gag mudah menyerah donggg
dan sekarang masih dalam tahap pencarian *ciyeee kayak nyari pangeran ajeee hihi
#selamatMencariPut
:)

Jumat, 25 Januari 2013

Oh begini

inget waktu masa masa pertama kali masuk dunia kuliah
waktu itu wejangan wejangan dari kakak tingkat banyak banget -tak terhingga kalau bahasa matematika-
ada yang bilang kalau baru baru masuk kuliah itu pada rajin semua -datang tepat waktu, perhatiin dosen dgn sangat amat serius, dan yang laen laen dah-
oh iyaa, mereka juga bilang kalau udah memasuki semester tujuh, delapan, dan semakin ke atas, pertemuan dengan teman teman itu udah mulai jarang, bahkan bisa diitung.

dan kini saya merasa yang mereka katakan dulu -sekitar tiga tahun yang lalu-
mengakhiri semester tujuh ini, kebersamaan bareng temen temen jarang terlihat -biasanya ngumpul di beranda kampus, nyantai di taman, de el el-
pernah beberapa minggu yang lalu nyantai di taman sama beberapa temen -itu pun karena ada jadwal kuliah tapi dosen gag ada-
it's okee
saya sadar karena sekarang ini waktunya menyelesaikan apa yang harus diselesaikan
dan jarangnya pertemuan dengan mereka karena mereka dan aku memiliki tugas masing masing -SKRIPSI-
tapi walopun saya belom KKN, saya berharap bisa wisuda taun ini jugaa *amin

Jumat, 11 Januari 2013

Bayanganmu (masih) di sini



Saat aku sudah lelah dengan berbagai aktifitas, pastinya aku memilih istirahat agar raga ini bisa bernafas sejenak –mungkin semua orang juga melakukan hal itu, terkecuali pada orang yang tidak memikirkan kesehatannya– dan saat itu juga kenangan itu mengelilingiku –saat aku dan kamu masih bersama–
Bayanganmu (masih) di sini
Satu tahun. Ya kurang lebih satu tahun telah berlalu dengan kesendirian dan tidak ada lagi “kita”. Satu tahun memang telah berlalu tapi kau tahu tidak bagaimana satu tahun itu? Kenangan aku dan kamu masih saja terlintas –dan sempat-sempatnya aku tersenyum–
Saat kamu mengatakan bahwa “lebih baik berteman”, aku lebih memilih diam. Diam untuk memahami kondisi. Diam untuk mengerti pernyataan-pernyataanmu. Diam untuk mengatur nafas. Diam untuk membongkar gubuk yang sudah kubangun –gubuk untuk aku dan kamu–. Diam untuk bisa tahu bagaimana cara agar bisa tersenyum padamu, lagi.
Perkenalan, pendekatan, dan kebersamaan waktu itu memang terasa cepat –seperti makan bakso– tetapi kenapa menghapus kamu begitu terasa lama –seperti mentari berganti bulan–
Setelah satu tahun –vakum menyapamu–, aku mencoba untuk memberi sedikit ruang untuk kamu sebagai teman –sesuai permintaan kamu–. Dan harapanku, dengan sedikit keterbukaan itu, bisa membuat kenangan itu menjauh.
Lantas yang kudapat?
Bayanganmu (masih) disini
Aku bukannya ingin memusnahkan kenangan yang telah terjalin –tapi setidaknya tidak hadir setiap saat– karena aku sadar, dari setiap peristiwa itu memiliki keistimewaan tersendiri dan itu merupakan sesuatu yang harus bisa didokumentasikan dalam sini.
Dan yang paling membuatku takut, dengan adanya bayanganmu –yang selalu hadir di sini–, akan membuat aku salah tingkah padamu dan ingin menarik perhatianmu. Kalau sudah begitu, nanti pikiranku malah ingin kembali padamu, sedangkan kamu tidak menyetujuinya.
Tolonglah, pada bayangan –yang selalu datang–, berikan kesempatan padaku untuk mencari pondasi lain sehingga gubukku nanti tidak akan terbongkar –atau pun hancur–, lagi.

Rabu, 09 Januari 2013

Karena Bunda dan Papa



Sore ini aku sedang menikmati beberapa buku yang terjajar rapi. Memang tiga buku yang menarik perhatianku tapi mengingat kelangsungan hidup untuk beberapa hari ke depan, aku harus memilih satu. Pilihan yang sulit.

“Ketiga-tiganya bagus,” kataku lirih.

“Kalau begitu ambil saja semuanya.”

Tiba-tiba sebuah suara memecahkan kebingunganku di hadapan ketiga buku. Kepalaku dengan sigap menoleh sumber suara. Wajah pemilik suara itu membuatku ternganga.

“Hei, Dam. Apa kabar?”

“Alhamdulillah baik. Kalau kamu pasti baik juga, terlihat dari rautmu,” sahut Sadam dengan santai.

Kami tertawa. Kami melanjutkan pembicaraan di sebuah kafe yang berada di depan toko buku. Hampir dua jam kami berhadapan dan membicarakan berbagai hal semenjak wisuda kampus. Memang sejak wisuda di kampus, empat tahun yang lalu, aku dan Sadam tidak pernah bertemu, bahkan berkomunikasi pun tidak. Aku hidup dengan kehidupanku sendiri, dan Sadam pun juga begitu.

***

“Apa?” tanyaku dengan raut muka penuh kaget.

Senin, 31 Desember 2012

bercengkerama penghujung tahun

heeehhheeeeiiiiiiiyyyyyyyyyy
gag berasa udah di penghujung tahun ajeee
dan pasti, banyak hal yang udah terjadi --ampe gag keitung lagi-- hihi

o iya hari ini gag nyangka aja bisa jalan bareng adek adek sayahh
biasanya saya keseringan jalan sama adek pere *maksudnya perempuan :)* semenjak adek nyang laki laki mondok
tapi berhubung hari ini si laki laki di rumah, jadi pas dahh ngumpul bertiga
seneng bisa berbagi sama mereka
insya allah bisa bareng lagi *amin

*balik cerita penghujung tahun
nyang namanya penghujung tahun, pasti selalu bercerita tentang apa aja yang udah terjadi sepanjang 2012 (mengenang gitu dahhh) dan resolusi untuk tahun depan
nahhhh saya juga pengen begitu dongggg

2012
berbicara 2012
*terima kasih Allah karena sampai saat ini masih diberikan kesempatan untuk menikmati udara*
ngomong ngomong awal tahun 2012, jalan bareng sama temen temen seangkatan di kampus sm beberapa dosen juga..
perjalanan awal tahun ini sebenernya bukan sekadar jalan jalan ajee tapi ada satu tujuan tertentu, walopun wisata lebih mendominasi hehe
mau tau gimana serunyaaa?
nihh silahkan dahhh mampir ke sini yak :)
okeee kalo diliat dari cerita nyang  ini, ada rencana yang terjadi tapi waktunya tidak terduga, tapi ada juga rencana tinggal rencana
*namanya juga manusia berencana, Allah yang berkehendak :)
ada tawa ada pula air mata
2012 juga membawa keperihan pada dua orang teman --teman baik--
Vires dan Zuzu terkena musibah kecelakaan
Vires harus berteman ICU selama dua hari sedang Zuzu harus menahan sakit beberapa luka di raganya
yap kalo ngomongin kecelakaan, saya juga ikuuutttt *kalo gag salah sihh dua kali dalam tahun ini
gileeee beneeerr daaahhhh
*semoga tak terulang lagi *amin
ohh iyaa tahun ini saya disibukkan dengan beberapa acara di kampus
*bulan sastra dan bulan bahasa :)
mau tau? nihhh mampir ajaa ke sini
selain itu, tahun ini memberikan saya kesempatan untuk mencapai salah satu cita cita sayah
*be a announcer *ayey
semogaaa bisa mempertahankannya *amin
dannn akhirnya bisa PPL jugaa walopun di semester tujuhhh hihi
masih ada berbagai hal yang terjadi sepanjang 2012, maaf tak bisa disebutkan satu per satu :)

2013
beberapa jam lagi tahun berganti
tak berharap banyak
yang penting, bisa mempertahankan apa yang telah dicapai dan kebahagiaan yang ada
semoga pekerjaan di radio bisa bertahan *kalo bisa ampe nenek nenek hihi
semoga bisa ngajuin judul *secepatnya trus seminar trus KKN trus sidang trus WISUDA #AMIN
semoga bisa dapetin kerjaan lagi *nyang berhubungan bidang keguruan
semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi *lebih dewasa dalam berbuat, berpikir, n berucap
semoga bisa menemukan serpihan hati yang bisa menenangkan hati ini *asikkkk
okeee semoga tahun depan bisa lebih baikkkk
*amin

*_^

selesai bagian tiga


Yap kalo nyang satu ini juga lanjutan nyang ini dan ini ehehe
Kalo yang ini sedikit berbeda, banyak sihh bukan dikit lagi ahahaha
Kalo yang ini gag pakek susunan acara dan yang pasti gag pakek pembawa acara
*Ihihi maunya saya ajaa
Acara yang ini sihh sesame teman teman PPL ajaa dan acaranya pun lebih nyantai *seperti rekreasi
Tapi kalo ngomongin rekreasi, pasti identik sama yang namanya akhir pecan
Kalo acara ini bukan di akhir pecan tapi pertengahan pecan ehehe
#Kamis20Des2012
Sebelum hari H sihhh dengan yakinnya janjian jam delapan pagi TENG
Tapi saya dan Qisthi yang pertama kali sampai di tempat, sekitar jam Sembilan pagi
Hheeeelllooooouuuuuwwwwwwww
Huwaauuwww banget nihh anak anak
Bête sihh tapi mau gimana lagi
Dan beberapa menit kemudian, beberapa teman menyusul dan akhirnya gag terkumpul semua jugaa sihhh
Walopun gitu, kami tetap masuk :D
Baru sampai parkiran ajeee udah pada gaya mereka, termasuk aku
Ahaha *gubrak




Sekitar jam sepuluh kurang, kami memulai perjalanan Kamis pagi,
Awalnyaa sih pengen naek kereta api tapi berhubung rame banget jadi pending dahh
#OutBond jadi sasaran perdana
*seruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
Tapi Qisthi dan Lia kagak ikutannn
Huhu gag asik nihh mereka
Ehhh tapi si Qisthi malah jadi potograper selama saya dan teman teman berada di atas hihi







#OutbondBerakhir
Udah menunjukkan sekitar jam sebelas kurang
Dan kami memutuskan untuk berkumpul sejenak
Poto poto dulu dahhh rame rame tapi cuma satu jepret doing but it’s OK
rame sihh tapi kurang dua orang lhoo


Abis ntuhh, tuker tukeran kadoooo
Hoho
Biar adil, tukerannya pakek undian gituu hihi
Dan saya dapet gantungan buat di mobil
*semoga bisa beli mobil *amin :D




ccuussssss makan siang rame rame


Setelah makan siang, temen temen pada pengen ngelanjutin menikmati hiburan yang ada di sono
Tapi berhubung saya ada jadwal siaran jam 12 (ahaha ketauan banget telatnya *map yak) dan Qisthi ada jadwal kuliah, jadi kami berdua izin pulang duluan
*sebenernya masih betah sihh tapi sikon tak bersahabat huhu

Dan tau taunyaaa
Sampai di studio…
*listrik mateeee
*gubrak
*pulang ke rumah
Sedangkan teman teman sedang menikmati kebersamaan

Yaaaaa jodohnya seperti ini *_^

selesai bagian dua

Yap untuk posting ini bisa dikatakan sambungan dari yang ini 
Seperti yang sudah saya katakana, rencananya acara perpisahan mahasiswa PPL bersama majelis guru dan staf TU sekitar jam sebelas siang
Tapi eh tapi karena majelis guru dan staf TU ada acara..
Jadi acara kami dimulai sekitar jam setengah dua belas lewat *gag tau tepatnya lewat berapa :D
Kalo diliat dari yang datang, tidak secara keseluruhan majelis guru dan staf TU yang hadir karena ada urusan yang lain, yap it’s OK
Dan saya, kembali menjadi pembawa acara ehehe
Pertama kali yang memberikan sambutan yaitu Chandra, selaku ketua PPL. Kemudian pak Drs. Agus Hari Subagyo, selaku kepala sekolah, yang memberikan sambutan.





Oh iya, ketika beliau sebelum memberikan sambutan, beliau membuat suasana begitu hangat dan malu. Beliau mengatakan, kalau ini acara perpisahan, seperti akan berpisah selamanya dan tidak bertemu lagi. Dan bodohnya saya, karna bersebelahan dengan pak Agus, mengatakan “pengembalian”. Lalu pak Agus mengatakan, kalau acara pengembalian, mau mengembalikan kemana? Tidak satu pun dosen yang datang pada acara ini
*gubrak
*pengen banget guling guling
Dan bodoh saya semakin menjadi, setelah pak Agus memberikan sambutan, dengan santainya saya mengatakan, “maaf sebelumnya, saya ingin mengklarifikasi ……”
Pada ketawa seluruh ruangan yang ada di sana beserta benda mati juga pada ketawa
Saat itu pengen banget berdiri trus lari sekuat kuatnya tapi gag mungkin dongg
Saya kan hanya ingin menjelaskan bahwa saya dan teman teman sudah menghubungi dosen tapi para dosen ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan :D
Baiklah, setelah itu acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang kenangan dari mahasiswa PPL ke pihak sekolah secara simbolis
Hayyooooo pada penasaran kan kenang kenangannya apaaa? Iyaa kan? Iyaa dongg :D
Tapi map yak ini rahasia umum eeiittss maksudnya rahasia dapur ehehe
Kemudian pembacaan doa
Dan dilanjutkan dengan salam salaman
*huwaaaaa gag tahan banget sama nyang satu ini *nihh air mata centil banget pd keluar
Terlebih lagi berhadapan sama guru pamong *kerasa banget tau huhu
Lanjuuuttttt daaahhhhhh ramah tamah
*pas banget waktunya lunch :D *guten apetit
Acara pun kelar
Teruntuk pak Bahari, terima kasih telah menerima saya dan teman teman, lima bulan yang lalu, dengan hangat untuk mengadakan PPL di sekolah yang pernah bapak pimpin. Cara kepepimpinan bapak membuat saya salut dan terharu. Maaf jika saya dan teman teman, baik itu ucapan maupun perbuatan, pernah membuat kejanggalan di hati bapak. Terima kasih untuk berbagai hal yang pernah bapak ajarkan pada kami dan sabar menghadapi kami. Semoga bapak sukses di tempat yang baru. Saya yakin, kepindahan bapak di sekolah yang baru akan membuat bapak semakin sukses. Amin
Teruntuk pak Agus. Walaupun pertemuan bapak dengan saya dan teman teman begitu singkat, tapi saya sudah terkesan dengan kepepimpinan bapak. Terima kasih telah memberikan pengajaran kepada kami tentang berbagai hal. Terima kasih telah sabar menghadapi kami yang memiliki berbagai tingkah laku. Maaf jika ucapan maupun perbuatan kami membuat resah bapak. Semoga sukses dengan rencana rencana bapak demi kemajuan sekolah. Semoga bapak menerima saya menjadi guru honor di sekolah yang bapak pimpin ehehe.
Teruntuk ibu Ratih. Maaf jika selama pertemuan ini saya pernah membuat ibu menjadi gundah gulan, baik itu karna ucapan maupun perbuatan. Maaf jika ada sesuatu yang tidak terselesaikan dengan baik. Maaf jika materi yang saya sampaikan pada peserta didik tidak sepenuhnya. Terima kasih telah menerima saya dan teman teman dengan hangat. Terima kasih telah memberikan pengertian dan perhatian pada saya. Terima kasih karna sudah sabar membimbing saya dan mengajarkan berbagai hal, baik mengenai pendidikan maupun yang lain. Terima kasih telah memberikan kesempatan pada saya untuk mengajar dua kelas. Terima kasih untuk segalanya. Satu hal yang selalu mengingatkan saya tentang ibu ialah senyuman ibu ehehe *gombal banget yaa.
Teruntuk majelis guru dan staf TU. Maaf atas ucapan/perbuatan saya dan teman teman yang kurang berkenan di hati. Maaf jika ada pekerjaan kami yang kurang memuaskan. Maaf jika kami tidak bisa membantu secara keseluruhan. Terima kasih telah menerima kami dengan hangat. Terima kasih telah mengajarkan kami berbagai hal. Terima kasih telah berhubungan baik dengan kami selama di sana.
Semoga pertemuan ini akan menjadi tali silaturahmi yang tidak akan terputus.
Amin

tapi cerita saya belom berhenti sampai di sini lhooo
Setelah makan siang, saya dan teman teman #SatuProdi menemui ibu Ratih *guru pamong*
Kami berbicara sejenak dan memberikan kenang kenangan sebagai rasa terima kasih sebab telah membimbing kami di sekolah.
Setelah ntuh, saya piker bakal langsung balik ke rumah
Ehhhhhh tau taunyaa di luar sana pada sibukk poto poto sama guru pamong mereka dan ibu Ida
*Ibu Ida itu Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum :D
Berhubung saya belom poto poto sama ibu Ratih, langsung dahh saya jemput ibu supaya bersedia poto poto di luar
Dan hasillnyaaaa
*jreng jreng jreng :D
bareng temen prodi dan bu Ratih

bareng bu Ratih -guru pamong-- :)
bareng pak Agus dan temen #SatuProdi :)

bareng bu Ida :)
aheeeeyyyyyy
masih banyak lg sihh poto potonyaaa tapi malu ahhh kalo diupload semuaaa
*keliatan banget narsisnyaa ahaha *gurak
wokeehh laaa
hari itu menyenangkan sekaligus melelahkannnn
*_^