Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Februari 2013

Pergi bukan meninggalkan


Pergi bukan berarti meninggalkan. Langkah kaki yang semakin jauh bukan berarti hanya meninggalkan jejak lalu terhapus oleh debu, justru dengan jejak itulah bisa menjadi kompas untuk kembali.
***
Juni telah usai. Telah berlalu dengan kenangan, entah itu kenangan atau hanya sekadar angin lalu yang tidak terasa kelembutannya. Telah berakhir dengan segala putusan, yang entah dimana letaknya. Namun apakah penderitaan telah berujung? Tidak!

Selasa, 08 Januari 2013

Sasa



            Sebelum berangkat dari rumah, seperti biasa Sasa mengirim pesan ke 32665, “kuawali pagi ini dengan senyum J”, begitu bunyinya. Setelah terkirim, Sasa langsung melangkahkan kaki dan pergi meninggalkan rumah bersama si hitam yang selama ini setia menemaninya. Dia pastikan hari ini akan lebih baik dari kemarin. Jika mengingat kemarin, dirinya jadi kesal sendiri dan rasanya ingin terbang ke langit yang paling tinggi. Jadi lebih baik tak memikirkannya lagi dan fokus pada perjalanan pagi ini.
            Perjalanan ini sudah menjadi rutinitas dan terkadang Sasa menjadi bosan sendiri. Dalam perjalanan selalu memikirkan berbagai hal, entah itu kehidupan pribadi, keluarga, teman-teman lama, kenangan masa lalu, dan juga kehidupan di masa akan datang. Kali ini Sasa membayangkan bagaimana akan berdiri tegak di hadapan khalayak ramai dan mendapat gelar sarjana. Sungguh membanggakan pastinya. Semua mata tertuju padanya. Jadi senyum-senyum sendiri.
            “Hei, sudah bergeser ya?”

Minggu, 25 November 2012

Sajian Singkat


Rintik hujan kembali menyapa tanpa bosan. Dan aku sebagai penikmatnya yang selalu setia. Setia menanti datangnya hujan. Setia menemaninya sampai ia lelah. Tapi aku sendiri tidak yakin, apakah ia akan lelah seperti aku yang terlalu cepat mengeluh karena lelah menantinya? Tidak. Tidak seperti itu. Ia terlalu kuat untuk lelah sebab tenaganya saja tidak bisa dihitung dengan alat ukur mana pun, pikirku. Karena kehebatan kekuatannya itu, aku tidak bisa bergerak, bernafas pun sulit. Dalam rengkuhannya itu membuat organ-organ dalam tubuh ini berhenti untuk beroperasi, tangan seperti diikat erat oleh tali tambang, kaki dipasung sedemikian rupa sehingga mati rasa.
Seharusnya ia lebih mengerti aku, aku yang masih terlalu dini. Seharusnya ia berpura-pura lelah sejenak untukku sehingga aku bisa menari di atas jalan raya. Sebentar saja. Aku hanya ingin meminjam sedikit ruang. Biarkan aku menyicip ruang di kota ini. Aku tidak akan berani egois terhadapnya karena kekuatanku tidak sebanding.
Tiga hari sudah aku menginjakkan kaki di kota ini, Jambi namanya. Kalian bisa menyebutku sebagai pendatang baru. Tapi bukan pendatang baru yang akan tinggal di sini selama beberapa tahun. Kedatanganku ke sini hanya sekedar liburan semata. Liburan yang kupikir bisa menghibur diri dari penatnya kegiatan di kampus. Sepertinya hanya itu alasanku datang ke negeri Jambi. Kalian pasti berpikir aku memiliki saudara di sini sehingga aku memilih berlibur di Jambi. Atau itu hanya pikiranku saja? Tidak seperti itu kawan. Aku tidak memiliki saudara sedikit pun di negeri Jambi. Yang kupunya hanya Tio, teman kecil ketika masa putih merah.
Dering ponsel membuyarkan lamunanku tentang hujan yang tak pernah bosan datang. Sebuah pesan dari Tio yang mengatakan bahwa sebentar lagi ia akan menjemputku. Cuaca dingin seperti ini mendukung sekali untuk bercengkerama dengan kasur. Tapi kali ini aku harus tahan banting. Bagaimana pun cuacanya aku harus tetap pergi karena waktuku di sini tidak lama. Sudah cukup tiga hari ini aku mengendap dalam kamar.
Tio mengajakku ke acara pentas seni di sekolah, tempat dimana ia mengajar. Saat Tio mengatakan ingin mengajakku pergi ke acara ini, tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakannya. Sampai di sana, Tio memperkenalkan aku pada guru-guru dan anak-anak muridnya. Mereka ramah dan menerima kehadiranku dengan tangan terbuka sehingga aku merasa nyaman berada di sana walaupun baru pertama kali bertemu mereka. Dengan yakinnya, Tio meninggalkanku bersama Sinta. Sinta juga guru yang mengajar di sana. Sinta tidak mau kupanggil dengan sebutan “Ibu Sinta” karena Sinta masih sebaya denganku.
Bersama Sinta, aku merasa jalan-jalan sekitar Jambi padahal kami berdua hanya duduk santai di kursi tamu. Sambil menikmati kue, Sinta menjelaskan tempat wisata Jambi, makanan khas Jambi, dan dia juga menceritakan tentang kehidupannya sehingga ia membuka diri untukku. Sinta menceritakan tentang perebutan pulau Berhala antara provinsi Jambi dan provinsi Kepulauan Riau. Dari segi geografisnya, pulau Berhala memang termasuk dalam wilayah provinsi Kepulauan Riau. Tetapi dilihat dari sejarahnya, pulau Berhala didirikan oleh Datuk Paduka Berhala yang berasal dari Jambi. Namun perebutan tersebut sudah selesai dan pulau Berhala kini menjadi milik provinsi Jambi.
“Tio sudah mengajakmu ke Tanggo Rajo?” Tanya Sinta padaku.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Menyebutnya saja Tio belum pernah, jawabku. Namanya aneh sekali, bicaraku dalam hati. Tanpa ditanyakan, Sinta langsung mejelaskannya padaku. Tanggo Rajo itu sebuah kawasan di pinggir aliran sungai Batang Hari. Di kawasan itu kita bisa menghabiskan waktu atau akhir minggu, bersama keluarga dan orang-orang terdekat, sambil menikmati jajanan ringan. Di sepanjang kawasan Tanggo Rajo terdapat beberapa penjual yang menyajikan jajanan ringan, jagung bakar misalnya yang paling banyak diminati oleh pengunjung. Menikmati senja di pinggir sungai Batang Hari bersama orang-orang terdekat dan tersedia pula jagung bakar dan es tebu, itu sangat mengasyikkan sekali, tutur Sinta tanpa ragu padaku. Aku yang mendengarnya merasa nyaman sekali dan ingin mengunjungi tempat itu.
Sinta tidak lagi melanjutkan ceritanya karena acara pentas seni segera dimulai. Mataku terpusatkan pada pentas yang ukurannya tidak begitu besar namun hiasannya cukup menarik hati. Aku sudah siap dengan kamera digital yang setia menemaniku selama empat tahun. Walaupun sudah tua dan terkadang sakit, tapi aku masih mempertahankannya. Beberapa siswa sudah siap dengan tariannya dan mulai menari di hadapan kami. Tari yang disajikan itu Sekapur Sirih namanya, kata Sinta. Aku memperhatikan tiap gerak yang dimainkan. Lembut dan hati-hati terlihat penari itu sangat pandai berkomunikasi dengan gerakan dan iramanya. Tari Sekapur Sirih yaitu tari penghormatan, maksudnya tari yang biasanya disajikan ketika menghormati kedatangan orang tertentu. Berhubung saat ini yang datang adalah bapak walikota Jambi dan untuk menghormati kedatangannya, disajikanlah tari Sekapur Sirih. Pada akhir tarian, salah satu penari membawa tampan kecil yang berisi sirih yang diberi kapur dan berdiri di hadapan bapak walikota. Kemudian bapak walikota harus memakan sirih tersebut. Sajian seperti ini pertama kali baru kulihat. Dan ini menjadi pengalaman yang mengesankan.
Tari Sekapur Sirih selesai. Dan acara dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua panitia, ketua osis, kepala sekolah, dan bapak walikota. Di sela-sela sambutan yang berlangsung, aku meminta Sinta untuk melanjutkan pembicaraannya. Aku masih penasaran dengan cerita-cerita menarik lainnya. Awalnya Sinta mempermainkanku untuk tidak melanjutkannya dengan alasan karena ada urusan yang ingin diselesaikannya. Sinta memang pergi, meninggalkan aku sendirian di keramaian anak-anak. Tapi tidak beberapa lama Sinta datang menghampiriku lagi. Dan ia langsung melanjutkan ceritanya.
Sinta menjelaskan salah satu tempat wisata yang cukup ramai dikunjungi yaitu Kampung Raja. Di Kampung Raja terdapat permainan-permainan untuk anak-anak dan orang dewasa. Di sana juga terdapat outbond sebagai tempat untuk mengacu adrenalin. Bagi yang suka tembak-tembakan, ada juga tempat menembak., tempatnya itu memang sesuai sekali untuk tembak-menembak. Bagi pengunjung yang tidak membawa makanan, jangan khawatir karena di sana juga terdapat kios-kios makanan. Dan ada pendopo kecil yang letaknya berada di pinggir air, itu sepertinya tempat yang bagus untuk menikmati makanan. Belum selesai Sinta menjelaskannya, Tio menghampiri kami berdua. Tio mengajakku segera pergi dari sana. Dengan tegas aku menjawab, “Aku masih ingin bercerita dengan Sinta. Kamu datang ke sini hanya untuk mengusirku?
Tio tersenyum. “Bukan seperti itu maksudku. Aku juga tidak ingin merusak pembicaraan kalian. Tapi aku ada keperluan lain lagi, Mel. Saat kita pergi tadi, bukannya aku sudah memberitahumu?” Jelas Tio padaku. Memang benar Tio telah memberitahuku bahwa hari ini Tio ada acara lain yang harus dikerjakannya sehingga aku tidak bisa berlama-lama di sekolah. Dengan berat hati, aku mengatakan sampai jumpa pada Sinta dengan harapan masih bisa bertemu lagi. Entah kapan itu aku tidak tahu.
Sampailah kami di candi Muara Jambi dan inilah bagian dari urusan lain Tio. Ketika memasuki kawasan candi Muara Jambi, mataku mulai menjalar kemana-mana. Melihat pemandangan sekitar candi Muara Jambi aku merasa seperti berada dalam lingkungan sejarah yang agung. Tapi ketika masuk kawasan candi, aku tidak merasa masuk dalam kawasan budaya karena ketidakadaan petugas berseragam sehingga terlihat biasa saja. Padahal jika dilihat dalamnya, kawasan candi Muara Jambi harus dikawal dengan pagar besi sehingga tidak ada yang berani mengganggunya. Di sana juga terdapat pusat informasi yang bisa dikunjungi dan aku tidak mau melewatkan kesempatan ini, aku mengunjungi pusat informasi. Sendirian. Karena Tio harus bersiap-siap dengan acaranya. Aku juga menikmati kawasan candi Muara Jambi dengan sepeda yang aku sewa.
Hari semakin sore. Tio menghubungiku dan menanyakan aku dimana. Sepertinya pekerjaan Tio sudah selesai makanya ia mencariku, pikirku seperti itu. Tio pun memperkenalkan aku dengan teman-temannya ketika aku menemui Tio di dekat danau yang masih berada dalam kawasan candi Muara Jambi. Tak lama kemudian, Tio mengajakku beranjak dari kawasan candi Muara Jambi.
Namun perjalanan yang kulihat sepertinya tidak mengarah pada hotel dan tidak mengarah ke rumah Tio. Lantas mau kemana? Mobil Tio berhasil parkir di tempat yang tidak jauh dari panglihatan. Sepertinya tempat ini yang diceritakan oleh Sinta tadi, bicaraku dalam hati. Kemudian Tio mendekati penjual jagung bakar dan memesan dua jagung bakar dan dua es tebu. Setelah itu, Tio mengajakku duduk di pinggir sungai. “Ini sungai Batang Hari namanya,” kata Tio.
“Namanya Tanggo Rajo, bukan?”
Rio menatapku dengan aneh. “Jangan menatapku seperti itu. Aku bukan orang pintar yang tahu segala-galanya. Tanggo Rajo itu aku tahu dari Sinta. Tadi di sekolah dia bercerita banyak,” jelasku pada Tio sambil menikmati jagung bakar.
“Ternyata Sinta mendahuluiku. Dia yang tidak sopan atau aku yang tidak memperhatikanmu?”
“Sepertinya pertanyaan yang kedua.”
Tio tersenyum padaku. Dan aku dengan wajah serius. Keadaan sepertinya terbalik. Kemudian kami tertawa. Tio sadar bahwa hari ini ia telah mengacuhkanku karena kegiatannya hari ini dan ia juga minta maaf karena belum bisa bercerita lebih tentang kota kelahirannya. Aku mengerti. Kalau aku berada di posisi Tio, mungkin juga akan bersikap seperti itu. Baiklah aku meminta Tio untuk melupakan ini dan lebih baik menikmati senja.
Di sungai Batang Hari kulihat banyak perahu yang menghiasi suasana senja. Terlihat orang-orang menggunakan perahu sebagai alat perhubungan untuk menyebrangi sungai. Keadaan seperti itu memang dari dulu. Sungai Batang Hari memang dijadikan lalu lintas oleh sebagian besar masyarakat Jambi. Bahkan dulu sungai Batang Hari menjadi lalu lintas yang ramai dipadati karena hanya sungai Batang Hari saja yang dapat dijadikan sebagai lalu lintas perdagangan dan perhubungan. Dulu ketika ingin pergi ke candi Muara Jambi juga menggunakan sungai Batang Hari sebagai jalur lalu lintasnya sebab belum ada lalu lintas darat. Begitulah penjelasan singkat dari Tio. Mungkin itu sebagai pengganti maaf karena tidak begitu memperhatikanku, pikirku begitu.
Keesokan harinya, Tio menepati janjinya untuk menemaniku ke tempat pengrajin batik. Sepulangnya dari mengajar, Tio menjemputku di hotel. Kemudian ia mengantarku daerah Tanjung Raden namanya. Tanjung Raden meruapakan salah satu daerah yang terdapat di Sebrang Kota Jambi. Di daerah tersebut, banyak sekali pengrajin batik sehingga jika membeli langsung ke sana, kita tidak akan mendengar harga batik yang menjulang tinggi seperti di pasar. Tio mengantarku ke rumah keluarganya yang menghasilkan sendiri batik Jambi. Di sana aku melihat bagaimana membatik itu dan bertanya jika ada sesuatu yang kurang dimengerti. Karena semangatnya ingin tahu membatik, aku lupa pada waktu yang hampir menunjukkan pukul 17.00 wib. Tanpa menunggu ajakan Tio, aku yang mengajak Tio untuk pulang.
**
            Waktunya aku kembali pada kegiatanku dan mengakhiri liburan. Seharusnya liburanku ini masih panjang tapi ada urusan yang harus kuselesaikan di kampus. Lima hari di sini terlalu singkat untuk aku yang masih penasaran dengan kota ini. Mungkin akan ada waktu yang lebih, yang bersedia membagi ruangnya untukku.
            Aku telah duduk manis di bangku 26 dan siap meninggalkan kota kelahiran Tio. Di luar sana masih ada Tio yang menunggu kepergianku. Sepertinya ia tidak rela membiarkanku pergi dan masih ingin aku berada di sini, itu hanya imajinasiku saja. Bagaimana pun sikap Tio selama aku di sini, aku tetap menganggapnya teman kecilku yang baik.
            Suara mesin mulai terdengar. Bus bergetar. Tak lama kemudian, roda pun berputar. Pasti aku beranjak dari sini. Tio melambaikan tangannya padaku. Hujan pun ikut dalam perpisahanku dengan Tio.
Hujan seperti ini mengingatkanku ketika pertama kali menginjakkan kaki di sini. Aku tiba di bandara sekitar pukul 13.00 wib. Sambil menunggu jemputan, aku menikmati lingkungan sekitar. Took-toko berjejer dengan rapi, ada yang berisi jajanan ringan, oleh-oleh Jambi, dan ada juga butik batik Jambi. Aku memasuki toko batik Jambi dan di sana terdapat berbagai batik. Ketika menikmati batik di toko tersebut, aku mendengar namaku disebut oleh sumber suara yang terdengar nyaring di atas kepalaku. Awalnya aku tidak yakin jika namaku yang menjadi pusat perhatian saat ini. Tanpa ragu aku meninggalkan toko dan berlari menuju tempat yang diberitahukan oleh sumber suara tadi.
“Tio?” kataku sambil melihat arah Tio dan ternyata mengagetkan beberapa orang yang berada di tempat itu.
“Kamu kemana saja? Meninggalkan tas begitu saja di ruang tunggu. Aku kira, kamu diculik,” kata Tio dengan wajah serius.
Aku hanya tersenyum menanggapi pernyataan Tio. Tio memang seperti orangnya, raut wajahnya terlihat begitu serius tapi sebenarnya ia santai. Setelah itu, kami memutuskan untuk segera meninggalkan bandara. Dalam perjalanan, kami berbincang-bincang santai seperti biasa yang kami lakukan ketika berbincang melalui ponsel. Ketika berbincang, aku menceritakan tentang kunjungan sebentarku ke toko batik di bandara tadi. Aku mengatakan bahwa aku tertarik melihat model dan bentuk batik tersebut karena terlihat memiliki makna di dalam ukiran batik tersebut. Karena kunjungan itulah aku lupa dengan tas yang kutinggal di ruang tunggu. Dan aku ingin belajar membuat batik. Tio tersenyum. Sedikit. Tersenyum karena tidak menyangka bahwa aku bisa menyukai hal semacam itu. Bagaimana tidak? Ketika putih merah, aku terlihat tomboy dan sudah dipastikan tidak akan suka dengan hal yang barbau wanita. Dan sekarang berbeda, bahkan di luar dugaan.
“Kamu yakin mau belajar membatik?”
Pertanyaan Tio seperti meremehkan keyakinanku. Ada apa dengan mata Tio? Aku melihat baik-baik saja tapi kenapa ia seperti orang yang menutup mata karena masih tertidur? Seharusnya ia mulai membuka mata ketika bersamaku. Pikiran Tio? Sepertinya aku harus mencari tempat untuk mengisi ulang pikiran Tio atau bisa juga menginstal pikirannya. Menginstal pikiran supaya ia tahu bahwa aku yang sekarang tidak sama dengan yang dulu.

***
tulisan ini mengingatkan saya pada peksimida 2012
walaupun gag menang, tapi ikut berpartisipasi aja udah seneng :)
260412

Minggu, 25 Maret 2012

Lembaran-lembaran Raisa

Dear Sasi,
            Kau pasti terkejut kenapa aku menulis surat seperti ini. Padahal sebenarnya, aku bisa  saja mengirim pesan singkat ke ponselmu. Dan kau pasti berpikir, ada apa denganku. Dan masih banyak lagi pastinya pertanyaan yang kau lontarkan dalam benakmu. Kau tenang, aku baik-baik saja bahkan lebih baik dari yang kau pikirkan. Lebih baik, kau membaca tulisanku ini sambil duduk tenang di teras rumah, sepertinya lebih nyaman seperti itu.
            Sasi, ingat tidak ketika kita pertama kali bertemu tiga tahun yang lalu? Kau menyembur minuman di mukaku, tepat sekali mengenai mukaku. Aku langsung memasang mata tajam padamu dan kau malah memarahiku. Kau ini aneh sekali. Seharusnya kau minta maaf padaku, bukannya kau memarahiku seperti orang gila. Lalu parahnya, kita dipersatukan kembali dengan tugas kelompok. Untung saja, aku memiliki hati yang baik, jadi tiada lagi perselisihan di antara kita. Setidaknya, ketika kau datang dengan amarah, aku mendekatimu dengan tenang. Dan alhasil sampai sekarang kita masih bisa bertahan, bersama. Benar tidak?
            Sasi, aku bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukanku denganmu. Walau kau terlihat tidak perduli tapi sebenarnya kau sangat memperhatikanku. Iya ‘kan? Hehe. Banyak hal yang kita lalui bersama. Ada suka ada duka. Kau ‘tak pernah lelah menggenggam tanganku dan berusaha agar tidak terlepas. Kau selalu berusaha ada untukku dan aku juga berusaha ada untukmu. Kita bersama-sama mengukir dunia dengan cara kita sendiri.
            Semenjak kebakaran rumahku, enam bulan yang lalu, keluargamu mulai menghidupi kebutuhanku. Dan sejak saat itu, aku tak henti memikirkan masa depanku, Sas. Aku selalu memikirkan bagaimana menghidupi kebutuhanku sendiri, karena tak mungkin aku selalu bergantung padamu. Aku tak mau terlalu merepotkan kau dan keluargamu. Walau kalian selalu mengatakan tak merasa direpotkan tapi aku yang menerima kebaikan kalian, merasa sangat merepotkan, bahkan lebih. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mencari kehidupan baru. Mencari kehidupan dengan jalanku sendiri dan belajar menafkahi diri sendiri.
            Aku harap, kau tidak menangis saat membaca tulisanku ini. Tolong Sasi, jangan libatkan air matamu saat ini. Biarkan ia berada dalam dirimu dan tak perlu kau keluarkan. Sasi, tetaplah tersenyum. Tetap tersenyum walau aku tak di sampingmu lagi. Kau tenang saja. Aku baik-baik saja. Benar, Sas. Aku baik-baik saja. Kau tak perlu mengkhawatirkanku lagi. Kau tak perlu lagi setiap hari mengunjungiku. Tak perlu lagi menelponku setiap saat. Tak perlu lagi sibuk mengurusi keperluanku. Dan kau tak perlu lagi mencari hiburan untukku karena sudah cukup ada kau, di hati. Bagiku, yang kau perlu saat ini ialah pusatkan perhatianmu untuk ujian akhir nasional dan raih cita-citamu. Aku yakin, kau bisa menggapai impianmu.
            Sebelum kau bertanya-tanya, lebih baik kujelaskan. Jika kau merindukanku, datanglah ke tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Kau bisa ke candi Muara Jambi, tempat dimana kita bertamasya. Kau juga bisa datang ke tepian sungai Batang Hari, Ancol, karena kita pernah menikmati senja di sana sambil mengobrol masa depan. Kau ingat tidak? Ketika itu, kau ingin menjadi desainer handal dan kau akan mendesain gaun pengantin untukku jika aku akan menikah. Sasi, aku akan menunggu hari itu dan dengan senang hati aku akan memakai gaun hasil desainmu. Dan aku akan menukar gaunmu dengan kue buatanku. Bahagia sekali jika hal itu bisa terwujud, Sas.
            Sasi, terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan untukku. Aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikanmu. Tolong sampaikan juga rasa terima kasihku pada kakak dan orang tuamu. Dan tolong maafkan jika selama ini ada perbuatan dan ucapanku yang tidak mengenakkan.
            Doakan aku, Sas. Semoga aku bisa meraih impianku dan kau pun juga begitu. Dan kita bisa bertemu lagi.
            Bagaimana kalau lima tahun lagi kita bertemu di taman Anggrek?
            Oh iya Sas, tolong jangan cari aku. Biarkan aku menjalani hari-hari baruku. Tapi jika kau tetap ingin mencariku, silahkan saja. Tapi kau jangan datang di hadapanku. Kau boleh tahu dimana aku tapi anggap saja kau tak tahu apa-apa. Tapi lebih baik, kau tak melakukan apa-apa untuk tahu dimana aku.
            Baiklah Sas, kuusaikan saja tulisanku ini. Aku harap, kita bisa bertemu lima tahun lagi dan saat itu, kita sudah sukses dengan jalan masing-masing. Jaga dirimu baik-baik. Salam untuk keluargamu.
            Aku menyayangimu, Sas.

Salam manis,
Raisa

            Begitulah isi dari surat yang Sasi temukan di dekat pintu rumahnya Raisa. Surat dari Raisa, sahabatnya. Sasi rencananya saat itu ingin mengajak Raisa ke Taman Budaya Jambi untuk menonton pertunjukkan teater. Tapi yang Sasi dapatkan bukannya Raisa, melainkan tulisan Raisa.
“Maaf Sa, aku tak bisa menahan air mata ini. Bagaimana bisa aku melepasmu sendirian? Seharusnya kau bilang jika ingin pergi. Seharusnya kau katakan jika ingin mencari suasana baru karena setidaknya aku tahu kemana kau akan pergi.” Ucap Sasi sambil memandangi surat itu. Perkataan Sasi dilanjutkan oleh air mata yang semakin membasahi pipi merahnya. Sasi masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Raisa. Tiga tahun bersama masih belum bisa membuat Sasi untuk mengerti Raisa.
Sasi pun mulai beranjak dari rumah kontrakan itu. Langkah kakinya tidak lamban. Ia berlari menyusuri lorong yang cukup panjang. Ia berharap masih bisa mengejar Raisa dan menemukan Raisa di suatu tempat. Sasi terus berlari sekuat kemampuannya dan masih dalam pengharapan, bertemu Raisa.

Selasa, 21 Februari 2012

Anisa Untuk Al

“Maaf. Hanya itu yang bisa kukatakan padamu. Ketika mas membaca surat ini, aku sudah resmi menjadi istri orang lain. Aku telah menikah dengan laki-laki pilihan ayahku. Aku tak berniat untuk mengkhianatimu, mas. Tapi aku tak mungkin pula tidak menuruti perkataan ayahku. Ternyata pernikahanku ini telah dibicarakan sejak setahun yang lalu, hanya saja aku baru diberitahu sekitar dua bulan yang lalu. Aku pikir, kepulanganku  dua minggu yang lalu bisa membatalkan pernikahanku tapi ayah sakit keras dan beliau memintaku untuk segera menikah dengan mas Surya.
Bukannya aku tidak mau mempertahankanmu mas tapi keadaan ayah saat itu yang membuatku untuk menuruti perintahnya. Setelah akad nikah, ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Aku kalut. Aku ingin kamu yang menenangkanku di saat itu, mas. Sempat terlintas olehku untuk kembali padamu. Tapi aku berfikir, jika aku kembali padamu berarti aku akan membuat ayah kecewa walaupun ayah sudah tiada tapi di sana ayah pasti melihatku. Dan aku tidak ingin ayah bersedih hati di alam sana. Jadi aku teruskan pernikahanku.
Terima kasih untuk kasih sayang yang mas berikan terhadapku. Aku tahu itu kasih sayang yang tulus karena aku merasakan bagaimana kamu memperlakukanku selama ini. Tiga tahun sudah cukup membuktikan ketulusan menerimaku. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk mengurai cerita kita. Cerita yang kita ukir bersama, mas. Cerita yang penuh suka duka dan kamu tak pernah berhenti menggenggam tanganku. Kamu begitu hangat padaku dan juga keluargaku walaupun ayah kurang menyenangimu. Tapi semangatmu memperjuangkan tali kita begitu luar biasa. Kenangan kita terlalu indah untuk dilupakan, mas. Terima kasih untuk segalanya.
Kepergianku bukan berarti melenyapkanmu, mas. Aku harap, Anisa masih berada di sampingmu. Dan aku yakin, Anisa adalah orang yang tepat untukmu. Anisa adalah sahabat terbaikku, mas. Kamu pasti tahu itu. Aku juga yakin, Anisa tidak akan beranjak darimu karena dia tidak sepertiku yang berlari darimu. Mas tenang saja, Anisa akan menemani hidupmu.
Aku titip Anisa padamu. Jaga dia baik-baik sebagaimana kamu menjagaku sewaktu kita bersama. Jangan sakiti dia, mas. Jangan pula kamu menyalahkan kehadirannya karena aku. Jadilah imam untuknya. Kasihi dia dengan ketulusan yang kamu punya. Pertahankan ia sampai ajal memisahkan kalian. Aku merestui kalian, mas. Aku sangat merestuimu dan Anisa.
Sekali lagi, maaf. Maaf, mas. Aku benar-benar tak bermaksud menyakiti hatimu atau mempermainkan perasaanmu. Ini yang terbaik untuk kita. Untukmu, aku, dan Anisa.”
            Sepucuk surat itu dibaca oleh Aldi. Aldi menangis. Aldi menangis di atas kursi kantornya. Bahkan sampai kehadiran Anisa di hadapannya pun, air mata Aldi masih bertahan. Tanpa ragu, Aldi memberikan surat itu.
            “Ternyata Dia tidak main-main.” Kata Anisa sambil meletakkan surat itu di meja setelah membaca surat itu.
            “Maksudmu, Nisa?”
            “Seminggu sebelum kepergian ke rumah orang tuanya, Dia memintaku untuk menemani hari-hari mas Aldi sampai di hari tuamu jika Dia tidak kembali lagi.”
            Aldi terdiam. Masih menatap sepucuk surat yang tergeletak di hadapannya.
            “Dia memang begitu. Melakukan hal-hal gila, hal-hal yang tidak pernah terlintas oleh orang-orang di sekitarnya.”
         “Keterlaluan sekali dia. Pantas saja, sebelum kepergiannya, Dia selalu membicarakanmu dan aku disuruhnya untuk mengantar jemputmu ke kantor dengan alasan rumah kita satu arah. Tapi ternyata ini artinya dibalik semua ini.” Jelas Aldi.
            “Tapi jika mas tidak bersedia dengan ide gilanya, tidak apa-apa juga.”
            “Bagaimana bisa aku mengelak dari ide gila itu?”
***

Mawar Bersemi

            Wajah Intan sedikit masam. Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat wajahnya yang tidak mengenakkan itu.
            “Sudah berapa banyak lelaki yang sudah kamu sakiti hatinya?” Pertanyaan Intan dengan tegas dan seolah-olah membuatku menjadi orang yang terjahat bagi kaum adam. Sungguh terlalu Intan ini.
            “Sudahlah, kamu tentu tahu mengapa aku begini.” Jelasku pada Intan dan berharap Intan tidak akan mempermasalahkan ini lagi.
            “Aku tidak ingin kamu terlalu larut dengan mawar itu, Febi. Nanti yang ada penantianmu selama ini sia-sia.” Begitulah tanggapan Intan yang kesekian kalinya mengenai mawar. Mawar yang kupetik empat tahun yang lalu di taman. Mawar yang membuatku tertarik untuk menjaganya. Mawar istimewa kunamai. Bagaimana tidak? Karena mawar itu akan mengantarkanku pada seorang lelaki yang akan menemani hidupku sepanjang masa. Jika mawar itu telah bersemi, maka aku akan segera bertemu dengannya. Dan entah mengapa aku percaya akan hal itu.
            Intan menyodorkan beberapa foto laki-laki padaku. Dan aku menolak. Maaf, bukannya aku sombong atau merasa cantik atau pilih-pilih, tapi sudah jelas aku menunggu mawar bersemi.
            “Febi, kamu masih percaya dengan mawar bersemi, setelah penantianmu empat tahun ini? Bayangkan Febi, kamu sudah empat tahun menunggu, tapi apa hasilnya? Nihil ‘kan?”
            “Kamu masih ingat tidak ketika pertama kali aku mulai menunggu mawar itu? Aku mengatakan kalau aku akan menunggu, karena aku yakin mawar akan bersemi, suatu saat nanti. Jadi kamu tidak perlu mempertanyakan lagi. Aku mengerti kenapa kamu bersikap seperti ini Intan, tapi maaf sekali untuk yang ini. Lagi pula, aku pernah mengikuti saranmu untuk menerima kehadiran laki-laki, tapi nyatanya apa? Yang selingkuh, yang belum bisa lupain mantan, yang orang tuanya tidak setuju. Aku pernah mengikuti saranmu dan sekarang aku minta sama kamu untuk mengerti aku.” Jelasku panjang lebar pada Intan. Dan lagi-lagi aku berharap Intan kali ini bisa mengerti.
***
            Malam ini aku menghadiri acara ulang tahun Kiki, adik temanku. Walaupun Kiki itu adik dari temanku, tapi aku juga mengenal dekat Kiki karena dulu rumah kami berdekatan. Kiki terlihat berbeda dari sembilan tahun yang lalu. Aku ditemani Diko, kakaknya Kiki. Kami berdua bercerita sambil mengenang masa kecil. Bayangkan saja, aku bersama Diko dan kedua adiknya bermain karet. Lucu sekali. Diko sepertinya malu-malu jika mengingat hal itu.
            “Febi, aku bersyukur atas pertemuan kita kembali. Tidak menyangka sembilan tahun berlalu dan kita kembali bertatap muka.”
            “Aku juga, Diko. Ternyata ada pertemuan lagi.” Kataku sambil tersenyum.
            Hening sesaat. Kemudian, Diko mulai beraksi.
            “Febi, semenjak kita bertemu lagi aku merasa bahagia dan aku merasa nyaman ketika bersamamu.” Ucap Diko sambil menatapku. Aku membalasnya dengan senyuman. Diko berkata lagi, “Aku harap kita bisa bersama. Aku ingin menemanimu. Maukah kamu melengkapi hidupku?”
            “Maksudmu?”
            Diko mengatakan ingin menjadi pasanganku. Aku terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa. Dan aku memutuskan untuk melarikan diri. Aku pulang sebelum acara berakhir. Diko mengejarku namun sia-sia. Maaf Diko, bukan maksudku untuk menolak niat baikmu hanya saja aku masih menunggu mawar bersemi. Walau tak bisa kupingkiri kalau aku juga merasa nyaman denganmu dan tak ingin ada perpisahan lagi di antara kita. Namun apa daya sebab aku percaya pada mawar.
         Keesokan paginya, aku terbangun dengan mata sembab. Masih tak percaya dengan peristiwa di rumah Diko. Sudahlah aku tak bisa apa-apa lagi. Jelas-jelas aku telah meninggalkan Diko dan tidak tahu akan kuletakkan dimana muka ini jika bertemu dengannya. Seperti biasa, aku membuka jendela kamar dan betapa terkejut melihat keadaan luar rumah. Entah berapa tangkai mawar yang tersusun menjadi sebuah kalimat “Ich Liebe Dich”. Dan kulihat Diko berada di tengah-tengah mawar itu. Oh my God!
        Kini aku berada di hadapan Diko. Aku minta maaf padanya atas peristiwa di rumahnya dan menjelaskan pada Diko bahwa aku tak bisa menerima kehadirannya karena aku menunggu mawar bersemi. Diko tersenyum dan memberikan setangkai mawar yang bersemi. Aku menganga dan bisa dibilang wajahku saat itu polos sekali. Tidak bisa berkata.
        Diko menjelaskan padaku tentang setangkai mawar yang ia berikan padaku. Mawar itu diberikan oleh neneknya sekitar empat tahun yang lalu. Diko menuruti pesan neneknya untuk merawat mawar itu dan bersabar menunggu mawar itu bersemi. Jika mawar telah bersemi, itu artinya Diko akan bertemu dengan pasangan sejatinya. Tak terasa aku menitikkan air mata mendengar penjelasan Diko. Kenapa pesan neneknya begitu mirip dengan pesan yang kuterima di dalam mimpi? Jika memang benar, tapi kenapa mawarku tidak bersemi?
        Aku langsung pergi ke kamar. Kulihat mawar. Aku tak bisa menahan air mata ini untuk ikut merasakan kebahagiaan. Mawarku bersemi.
***

Sabtu, 18 Februari 2012

Dewara

            Tidak lelah Dewa mondar-mandir sedari tadi di hadapan ibunya. Raut wajahnya penuh kegelisahan.
           “Wa, kita harus terima kenyataan ini.” Ucap ibu Ajeng pada anaknya, Dewa, yang masih saja mondar-mandir di hadapannya.
           “Tapi Bu, bagaimana dengan Ara?”
           “Kita jelaskan baik-baik.”
           Dewa tidak menjawab lagi. Ia benar-benar tidak siap dengan kenyataan. Dewa tidak bisa lagi bersama Ara. Ya, memang benar. Dewa tidak bisa berada di samping Ara selamanya.
         Pintu rumah Dewa seperti ada yang mengetuk. Kemudian, ibu Ajeng membuka pintu. Nyonya Shelly datang. Ibu Ajeng menyambut dengan hangat kedatangan Nyonya Shelly. Ibu Ajeng, Nyonya Shelly, dan Dewa berada di ruang tamu. Mereka berbincang mengenai Ara. Nyonya Shelly berniat untuk mengambil Ara saat itu juga. Dewa terkejut. Sebab ia tak menyangka kalau Nyonya Shelly akan mengambil Ara secepat ini. Dewa meminta pada Nyonya Shelly agar membiarkan Ara tinggal di rumahnya beberapa hari lagi. Sebenarnya Nyonya Shelly tidak bisa menahan perasaannya untuk tinggal bersama Ara, namun ia mengerti keadaan Dewa dan ibu Ajeng.
            Ara pulang dari sekolah. “Assalamu’alaikum.” Sapa Ara seperti biasanya ketika memasuki rumah. Ibu Ajeng, Dewa, dan Nyonya Shelly menjawab salam Ara. “Wa’alaikumsalam.” Ara terkejut melihat Nyonya Shelly yang telah duduk di ruang tamu bersama ibu Ajeng dan Dewa. Setelah itu, Ara langsung keluar dari rumah. Ia berlari. Nyonya Shelly ingin mengejar Ara namun Dewa meminta pada Nyonya Shelly agar membiarkan ia saja yang mengejar Ara. Nyonya Shelly menangis lalu pamit pulang pada ibu Ajeng.
            Dewa terus mengejar Ara. Sampailah mereka di taman. Ara tidak sanggup lagi berlari. Ara menangis.
           “Kenapa? Kakak rela membiarkan Ara pergi? Atau memang itu keinginan kakak? Ara menyusahkan kakak dan ibu?”
        “Nyonya Shelly itu ibu kandungmu, Ara. Beliau mama Ara. Dan memang sewajarnya Ara tinggal bersamanya.” Jelas Dewa pada Ara dengan tatapan penuh keyakinan.
            “Memangnya masih bisa dibilang orang tua setelah membuang anaknya sendiri?”
           “Dia tidak membuangmu, Ra. Dia saja tertipu oleh bibimu. Bibimu yang telah membuatmu seperti ini. Bukan dia. Dia juga korban, sama sepertimu.”
          “Itu hanya bualan yang dibuatnya. Kakak sudah termakan oleh omongannya. Jangan percaya, Kak.”
        “Harus berapa kali lagi kakak menjelaskannya padamu, Ra? Apa sekarang kakak harus menjelaskannya lagi supaya kamu paham?” Begitulah Dewa. Berusaha meyakinkan Ara bahwa Nyonya Shelly memang benar orang tua kandung Ara. Kenyataan itu mulai terungkap semenjak Dewa bekerja di sebuah perusahaan swasta milik teman Nyonya Shelly. Ketika itu, Nyonya Shelly terjatuh di tangga dan ditolong oleh Ara yang kebetulan mengantar berkas Dewa yang tertinggal di rumah. Dari peristiwa itulah, Nyonya Shelly merasa ada yang aneh ketika ditolong oleh Ara. Ia merasa dekat sekali dengan Ara. Kemudian, Nyonya Shelly mulai mencari informasi mengenai Ara. Dan pada akhirnya, Nyonya Shelly sudah bisa memastikan bahwa Ara adalah anaknya yang selama ini dicarinya.
          “Kak, sampai sekarang pun Ara masih menganggap kak Dewa dan ibu adalah keluarga Ara. Kalianlah keluarga Ara yang sebenarnya. Bukan Nyonya Shelly atau siapapun.”
            “Iya, kakak tahu. Tapi bagaimanapun juga, Nyonya shelly itu ibu kandung Ara.”
            “Ara masih belum mengerti kenapa seperti ini.”
            “Lambat laun kamu akan mengerti, Ra.” Tutur Dewa sambil tersenyum pada Ara.
           Ara masih dalam linangan air matanya. Ia benar-benar tak menyangka akan begini jadinya. Ia memeluk Dewa dengan sangat erat. Hari semakin sore. Senja menyapa. Dewa berusaha melepas tangan Ara tapi genggamannya begitu kuat. Dewa memanggil tapi tidak ada respon. Dewa melihat Ara. Ternyata mata Ara terpejam dan raut wajahnya pucat. Dewa panik. Kemudian Dewa membawa Ara ke rumah sakit.
            Dewa menunggu di ruang tunggu.
            “Bagaimana keadaan Ara? Kenapa dia bisa seperti itu?” Tanya Nyonya Shelly dengan gelisah ketika datang ke rumah sakit.
          Dewa menjelaskan pada Nyonya Shelly tentang peristiwa di taman. Nyonya Shelly menangis. Tak lama kemudian, dokter keluar. Nyonya Shelly dan Dewa mendekati dokter dan bertanya keadaan Ara.
      “Dia sudah lebih baik. Sepertinya maag yang ia derita sudah parah sekali. Besok pagi saya akan memeriksanya kembali. Mudah-mudahan tidak apa-apa.” Jelas dokter kemudian berlalu.
       Dewa mempersilahkan Nyonya Shelly untuk melihat keadaan Ara namun Nyonya Shelly menolak. Nyonya Shelly tidak mau menambah keadaan Ara tambah parah. Ia justru menyuruh Dewa untuk menemani Ara. Dewa masuk ke dalam kamar Ara. Terlihat Ara masih terpejam. Dewa duduk di samping Ara. Ia menitikkan air mata tanpa bersuara dan memegang tangan Ara. Tak terasa, mata Dewa pun terpejam.
            Beberapa jam kemudian, Dewa terbangun. Ia melihat Ara masih tertidur. Dewa beranjak dari tempat duduknya. Ketika Dewa ingin keluar dari kamar, Ara memanggil Dewa. Ara terbangun. Ara meminta Dewa untuk tetap di sampingnya.
       “Kak, apapun yang terjadi, Ara tetap bersama kalian. Bersama kakak dan ibu.” Ucap Ara dengan pelan-pelan sambil menitikkan air mata.
            “Sudahlah, jangan pikirkan masalah itu.” Balas Dewa sambil tersenyum dan menghapus air mata Ara.
            “Tapi Kak, Ara tidak mau berpisah sama kakak dan ibu. Ara sayang kalian.”
            “Ra, kakak sama ibu juga tidak mau pisah sama Ara. Kakak sama ibu juga sayang sama Ara. Tapi kita tidak bisa seperti dulu lagi. Begini ya, sekarang Ara sudah  bertemu dengan ibu kandung Ara. Jadi Ara harus tinggal sama beliau. Lagi pula, Nyonya Shelly bisa membiayai kebutuhan sekolah Ara sampai perguruan tinggi.”
        “Jadi kakak tidak mau lagi membiayai Ara? Lagi pula, Ara tidak apa-apa tidak meneruskan ke perguruan tinggi asalkan bisa tinggal bersama kakak dan ibu.”
            “Bukannya kakak tidak mau membiayai sekolah Ara tapi sekarang ada Nyonya Shelly, ibu kandung Ara. Dia berhak untuk hidup bersama Ara. Pokoknya Ara harus kuliah, supaya bisa menggapai cita-cita Ara. Kalau Ara tidak mau kuliah, terus Ara tidak bisa mencapai cita-cita, itu berarti Ara sudah menyakiti ibu. Ara mau melihat ibu sedih?”
Ara menggeleng. Kemudian Dewa meneruskan omongannya. “Makanya, Ara harus kuliah. Nanti kalau Ara sudah berhasil, pasti ibu bangga sama Ara. Iya ‘kan?” Ara tersenyum. Dewa menggenggam tangan Ara. Tak lama kemudian, mata Ara terpejam lagi. Dewa kembali ke rumah.
Dewa berada di kantor. Ia sedang menyelesaikan tugasnya dan ketika itu, Nyonya Shelly mengiriminya pesan. Nyonya Shelly mengatakan bahwa ia minta maaf karena harus membawa Ara ke luar negri. Ternyata Ara memiliki penyakit leukemia dan harus diobati dengan cepat. Makanya, Nyonya Shelly mengobati Ara ke luar negri sebab Nyonya Shelly memiliki teman seorang dokter yang hebat dan ia yakin, temannya bisa mengobati anaknya.
Dewa langsung ke rumah sakit namun terlambat, Ara sudah keluar dari rumah sakit dari tiga jam yang lalu. Dewa menelepon Nyonya Shelly tapi tidak diangkat. Dewa terus berusaha namun hasilnya nihil.
Dewa terkulai lemas di bangku taman. Ia mengingat peristiwa kemarin ketika ia masih bersama Ara. Tak lama kemudian, ponsel Dewa berdering. Ternyata Nyonya Shelly. Ara dan Dewa berbicara. Ara meminta maaf pada Dewa atas kepergiannya. Ara menangis dengan terisak.
“Ra, kamu jangan nangis. Kamu harus semangat. Kakak mengerti kepergianmu. Kamu tidak perlu khawatir, kakak sama ibu tidak apa-apa. Sekarang yang kamu butuhkan adalah Nyonya Shelly, ibu kandungmu. Ia akan memberikan kasih sayang yang tulus dan akan merawatmu. Kami di sini akan mendoakanmu selalu. Sudah, hapus air matamu.”
“Iya, kak. Nanti kalau Ara sudah kembali lagi, kakak sama ibu datang ke rumah Ara. Ara sayang kalian.”
Begitulah percakapan singkat mereka. Penuh haru biru. Dewa tak bisa menahan lagi, ia menangis. Menangis dalam senja.
“Kakak akan mendoakanmu selalu, Ra. Kakak harap, kamu cepat sembuh, lalu kamu bisa meneruskan sekolah dan melanjutkannya ke perguruan tinggi. Dan kamu bisa meraih cita-citamu. Kakak harap, kehidupanmu akan lebih baik. Kakak yakin, Nyonya Shelly pasti akan membuatmu bahagia. Kakak menyayangimu. Akan selalu menyayangimu.”
***