Selasa, 14 Februari 2012

Cukup Empat Tahun

            “Baru pulang, Din?” suara mama yang mengejutkan Dinda.
            Dinda tersenyum sambil menggaruk-garukkan kepalanya.
            “Kok senyum? Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang, “ sambil melihat jam dinding bermotif mickey mouse.
            “Maaf ya, Ma. Tadi Dinda mampir ke rumah Lila, rencananya sebentar aja di sana. Waktu Dinda mau pamit pulang, mamanya Lila ngajakin jalan ke mall. Mau belanja buat acara cukuran keponakannya Lila. Dinda mengiyakan. Dan sekarang baru pulang,” mencium pipi mamanya sambil tersenyum kemudian berlalu.
            Dinda masuk ke kamar kemudian merebahkan diri di atas kasur yang empuk sekali rasanya untuk saat seperti ini. Benar-benar melelahkan, Dinda berkata dalam hati. Tanpa sadar Dinda memejamkan matanya dan tertidur. Namun tak lama kemudian, ia tak bisa melanjutkan mimpi indahnya karena ketokan pintu oleh sang mama.
            “Dinda sayang, kamu lagi ngapain?” kata mama sambil mengetok pintu.
Mama tidak mendengar sahutan dari Dinda. Kemudian mama mencoba membuka pintu kamar dan melihat anakya tertidur lelap. Mama mendekati Dinda dan mencoba membangunkan anak satu-satunya itu. Sebenarnya Dinda masih ingin berada di atas kasur empuknya itu tetapi rayuan mama tidak bisa ditandingi. Mama keluar kamar untuk mempersiapkan makan malam dan Dinda pergi ke kamar mandi karena ia merasa bau badannya itu sangat mengganggu. Setelah mandi, Dinda menghampiri meja makan dan kemudian makan malam bersama mamanya. Sedangkan ayah Dinda sudah meninggal dunia sejak Dinda duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas 2. Ayahnya meninggal karena kecelakaan ketika pulang dari kantor dan hal ini sangat membuat mereka tertekan batin. Dan sejak saat itu, ibunya Dinda bekerja keras agar tetap mempertahankan kehidupan keluarganya. Selain itu, Dinda juga membantu dengan bekerja sebagai penyiar di sebuah stasiun radio.
Setelah makan malam, Dinda kembali ke kamarnya dan kemudian ia mendatangi meja belajarnya, lalu duduk sambil membaca buku. Sepuluh menit kemudian, ponsel Dinda berbunyi, tanda pesan masuk. Kemudian Dinda membaca pesan itu, dan tak lama kemudian tersenyum. Buku diletakkan di atas meja, Dinda berpaling ke atas kasur, sambil memegang ponsel dan terlihat tersenyum lagi, lagi, lagi, dan lagi.
***
Dinda sedang menikmati makanan ringan di taman kampusnya sambil tersenyum sendiri. Lila yang sedari tadi heran melihat sikap Dinda seperti itu. Kemudian Lila menempelkan telapak tangannya ke kening Dinda.
“Apa-apaan sih La?” sambil mengelak dari Lila.
“Kamu yang apa-apaan! Dari tadi senyam-senyum, senyam-senyum sendiri. Ayo, kamu pasti…”
“Pasti apa? Ayo, mau ngomong apa kamu, La?”
“Nggak tau ah. Lagi males main tebak-tebakan,” jawab Lila dengan cuek.
“Kamu pasti kaget kalau kamu denger cerita aku. Tadi malam waktu aku lagi baca buku, tiba-tiba ponsel aku bunyi. Itu bunyi tanda pesan masuk. Dan kamu tau, siapa yang mengirim pesan itu? Kamu pasti nggak percaya, La,” sambil tersenyum.
“Kenapa berhenti ceritanya?”
“Gayamu itu lho, La. Tanpa reaksi. Biasa aja. Nggak jadi aku ceritanya,” Dinda cemberut.
“Emang siapa yang mengirim pesan itu, Din?” tersenyum dengan gaya yang terlalu over.
“Iras.”
“Apa? Iras?”
Aku mengangguk-anggukan kepala. Memang benar Iras yang mengirim pesan itu pada Dinda. Iras adalah teman Dinda ketika sekolah di SMP Budaya Bangsa. Mereka berada dalam lingkungan yang sama, lebih tepatnya satu kelas selama tiga tahun. Walaupun mereka berada dalam kelas yang sama selama tiga tahun, tetapi komunikasi mereka kurang baik, bahkan buruk menurut Dinda. Ketika mereka duduk di kelas satu, ada satu peristiwa yang menyudutkan mereka berdua dan Iras sepertinya sangat tidak menyukai hal itu. Dan menurut kaca mata Dinda, sejak itulah Iras tidak pernah mau berkomunikasi baik dengannya. Sebenarnya Dinda ingin mendekati Iras dan menanyakan mengapa Iras seperti itu tapi keberanian Dinda terbang entah kemana. Dinda membiarkan begitu saja. Sampai tamat sekolah pun, mereka tidak berkomunikasi baik. Dan kini, Iras menghubungi Dinda setelah empat tahun lamanya tidak berjumpa.
Kemudian Dinda menceritakan pada Lila tentang keberadaan Iras yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan Dinda. Betapa bahagianya Dinda ketika bercerita bagaimana ia dan Iras berbalas pesan tadi malam. Iras begitu hangat. Mereka bersenda gurau sambil mengingat masa lalu. Dari perbincangan itu, Dinda masih berada dalam dunia ketidakpercayaan bahwa yang menghubunginya itu ialah Iras, seorang Iras menghubunginya. Mungkin menurut orang lain biasa saja, tetapi bagi Dinda ini luar biasa. Bayangkan saja, seorang Iras, yang dulunya bersikap acuh, menghubungi Dinda. Semenjak itu, Dinda merasa saat ini dunia sedang berpihak padanya dan ia tidak akan menyia-nyiakan begitu saja.
Dua minggu sejak malam itu, Iras tidak pernah lagi menghubungi Dinda. Dinda ingin menghubungi Iras tetapi ia tidak yakin dengan dirinya. Keraguan Dinda mulai timbul atas kebenaran Iras. Dinda berpikir, apa untungnya Iras menghubunginya, mungkin kemarin itu ada orang iseng yang mengerjainya. Dinda mondar-mandir di ruang tamu sambil memegang ponsel.
“Aku harus berbuat sesuatu,” katanya lirih.
“Berbuat apa?”
Dinda kaget dan ponsel menjadi korban. Tersenyum melihat mama di hadapannya. Dinda mengambil ponsel kemudian berlalu meninggalkan mamanya. Dinda berlari ke luar rumah. Dinda tidak bermaksud meninggalkan mamanya begitu saja tetapi ia tidak siap jika mamanya menanyakan apa yang akan dilakukan olehnya dan ia memilih keluar rumah. Lagi pula, hari itu Dinda memang ada janji bertemu dengan Lila di sebuah toko buku. Dalam perjalanannya, ponsel Dinda berdering. Iras memanggil. Jantung Dinda berdegup cepat. Bimbang menyelimuti Dinda. Keputusannya, Dinda memencet tombol hijau. Mereka pun berbicara tapi tidak begitu lama. Dinda kembali tersenyum, sendiri. Setiba di toko buku, Dinda memperhatikan dengan cermat setiap pengunjung di sana dan sepertinya belum kelihatan gerak-gerik Lila. Dinda melihat buku-buku sambil menanti kedatangan Lila.
Dinda mengambil sebuah novel dan seketika itu juga ada suara asing menyapanya.
“Ada ya hubungannya akutansi sama novel?”
“Iras?,” Dinda dengan wajah kaget.
Peristiwa aneh, pikir Dinda, dua jam yang lalu ia menelepon dan sekarang benar-benar nyata di hadapan Dinda. Kenapa sekarang Iras di sini, apa Iras mengikuti Dinda sejak tadi, atau bagaimana. Berbagai pertanyaan hinggap di benak Dinda.
“Hallo,” kata Iras sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapanku.
Baru sadar Dinda, ia telah terdiam beberapa menit di hadapan Iras. Dinda tidak banyak bicara dan sepenglihatan Dinda, Iras tidak ditemani oleh siapapun. Satu hal lagi yang tidak Dinda sangka, Iras mengajaknya makan siang. Awalnya Dinda mengatakan bahwa ia sedang menunggu temannya di toko buku dan tidak mungkin ia pergi dengan meninggalkan temannya. Dan ternyata maksud Iras, Iras mengajak makan siang yang tempatnya berada di depan toko buku, jadi bisa melihat kedatangan teman Dinda. Dinda tidak bisa mengelak lagi. Mereka makan siang bersama.
Hati Dinda berdebar-debar dan jika diizinkan Dinda ingin berteriak agar seluruh pelosok dunia tahu bahwa saat ini ia sedang makan siang bersama Iras. Tapi ia tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu, nanti Iras menyangka Dinda orang aneh. Mereka duduk berhadapan. Tampilan Iras begitu dewasa dan tatapannya itu membuat Dinda ingin pingsan. Sedangkan Dinda, terdiam seperti patung. Iras mencairkan suasana dengan menanyakan berbagai hal, apa saja kegiatan Dinda saat ini, masih berkomunikasi tidak dengan teman mereka yang lain, dan membicarakan teman-teman mereka yang telah menikah. Mereka tertawa. Akhirnya Dinda bisa santai juga. Dan Dinda baru meyakini bahwa memang Iras yang mengirim pesan dua minggu yang lalu dan meneleponnya beberapa jam yang lalu.
Satu jam sudah Dinda dan Iras berada di tempat makan, tetapi Lila belum juga muncul. Dinda mulai khawatir, takut kalau ada apa-apa dengan Lila. Dinda mengambil ponsel kemudian mengirim pesan kepada Lila. Lila membalas pesan. Lila sudah berada di rumah karena ternyata Lila tadi sudah menunggu Dinda selama dua jam di toko buku, tetapi bukan toko buku yang berada di hadapan Dinda. Dinda salah tempat. Dinda minta maaf. Lila mengerti bahwa Dinda memang terkadang pelupa. Dinda menceritakan pada Iras bahwa temannya tidak akan datang karena Dinda salah sasaran. Mereka kembali tertawa. Dinda memutuskan untuk kembali ke rumah dan Iras tidak bisa mengantar Dinda karena ia harus segera kembali ke kantornya.
Mereka berpisah di tempat makan itu. Dinda berjalan ke arah utara, sedangkan Iras ke arah selatan. Dinda menikmati teriknya mentari saat itu dengan tersenyum. Bahagia sekali. Tidak disangka akan terjadi peristiwa seperti itu. Ketika mereka masih bersama tadi, sebenarnya Dinda ingin menanyakan mengapa ketika masa putih biru sikap Iras berbeda sekali, tetapi Dinda tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mempertanyakan hal itu. Dinda berharap, waktu akan menyediakan sebuah tempat bagi Dinda untuk memperjelas apa yang harus diperjelas. Ini awal dari empat tahun tidak bertatap muka.
***

Kamis, 09 Februari 2012

Sebatas Almamater

              “Udah dibilang ngga’ bisa datang, masih saja aku disuruh ambil sekarang. Emang bener-bener deh tuh anak”, ucap Caca dalam hatinya.
            Caca terus saja mengomel sepanjang perjalanan. Untung saja dia mengendarai sepeda motornya sendiri. Kalau tidak, bayangkan saja apa yang akan terjadi jika dia berada dalam mobil angkutan umum, pasti ia akan dimarahi oleh penumpang sebab tak tahan mendengar ocehan dari bibir Caca. Kalau sudah berbicara, Caca itu ratunya, apalagi kalau mengomel. Dia jagonya.
            Perjalanan masih berlanjut dan Caca masih tetap pada omelan yang tak tentu arah. Dia sangat geram dengan sahabatnya yang satu ini. Gimana ngga’ coba? Rena tahu kalau hari ini Caca tidak bisa keluar begitu saja, soalnya dia harus mengerjakan tugas kampus yang seabreknya minta ampun. Bagi Caca, sedetikpun ia melewatkan begitu saja, itu waktu berharga sekali. Caca itu punya waktu yang sudah diatur jadi Caca termasuk orang yang bisa membagi waktu, kapan waktu main, bantu orang tuanya, istirahat, ngerjain tugas, dan yang lainnya.
            “Hai Ca!” ucap seorang cewek yang melambaikan tangannya ke arah Caca.
            Caca pun mendekati cewek itu.
            “Nyebelin tau ngga’ , Ren?” kata Caca.
            “Idih, ni anak. Dateng-dateng malah sewot,” jawab cewek itu.
            “Idih, ni anak. Dateng-dateng malah sewot,” tutur Caca meniru gaya cewek itu.
            “Hehe.”
            “Huh,” ketus Caca.
            Begitulah Caca dan Rena. Cewek yang melambaikan tangannya itu Rena, sahabat Caca. Rena dan Caca sudah lama sekali bersahabat, kira-kira 15 tahun, sebab mereka bersahabat sejak kecil. Mereka sebaya. Mereka bersahabat sejak kecil bukan karena rumah mereka berdekatan, melainkan pertemuan mereka di sekolah. Mereka duduk sebangku dan akhirnya merasa cocok satu sama lain. Dan buktinya, sampai sekarang, mereka masih bersama walaupun kelihatannya mereka tidak harmonis. Tetapi sesungguhnya itulah kebersamaan mereka selama ini.
            “Udah aku bilang berapa kali lagi sih, Ren. Kamu udah tau jadwal aku gimana, tapi masih aja kamu kayak gini. Kamu kayak baru kenal aku aja,” tutur Caca.
            “Ya e la, Ca. Nyantai aja. Tugas kamu juga ngga’ bakal kemana-mana. Jadi tenang aja ya,” jawab Rena dengan santai sambil tersenyum.
            “Siapa yang bilang tugas aku bakal lari? Emangnya kamu, yang kabur kalo ngadepin tugas?”
            “Udah ah ngomelnya, udah panas nih kuping aku ngedenger ocehan kamu dari tadi. Lagian, kamu ngga’ malu apa ngomel-ngomel kayak gini?” sambil melihat sekitar.
            “Biarin aja. Biar semua orang tau kalo kamu nyebelin.”
            Rena tersenyum.
            “Senyum lagi.”
            “Kamu mau tunggu sini atau ikut aku ke dalem nih, Ca?
            “Aku ikut aja biar cepet.”
           Caca mengikuti Rena dari belakang. Mereka memasuki sebuah gedung yang letaknya di depan gedung fakultas mereka. Dalam gedung tersebut cukup ramai dan sedikit gaduh karena suara-suara yang tak bisa dikontrol.
            Rena mendekati tasnya dan mengambil sesuatu dari sana. Sedangkan Caca mengalihkan pandangan ke sekitar lingkungannya. Dia melihat wajah-wajah yang tak asing lagi baginya. Bahkan sesekali ada yang memanggilnya.
            “Eh, Ca,” sapa Jojo sambil menebarkan senyumnya.
            Caca membalas sapaan temannya itu. Kembali Caca melihat sekitarnya. Kemudian pandangannya terhenti pada sebuah kekamumpok kecil. Sebagian besar dari kekamumpok kecil itu ia mengenalnya tetapi ada sesosok wajah yang begitu asing baginya. Caca bahkan tidak mengenalnya.
            “Nih Ca, maaf ya kalau ada yang kurang,” kata Rena.
            “Kamu Ren, ngagetin aku aja.”
            “Kayak gitu aja kaget.”
            “Aku pulang ya.”
            “Biar aku anter, soalnya aku mau beli minum.”
            Rena mengantar Caca keluar dari gedung tersebut. Sebelum keluar, Rena mendekati kekamumpok kecil yang menjadi sorotan Caca tadi. Ketika Rena berbicara, pandangan Caca tearah pada sesosok wajah asing tadi dan tidak sengaja sosok itu juga mengarah padanya. Caca langsung mengalihkan pandangannya. Kemudian Rena mengajaknya berlalu dari kekamumpok itu.
            Caca mulai menggunakan jurus suka mau tahunya. Dia menanyakan sosok itu pada Rena. Dan dengan santai Rena menjawab.
            “Oh, dia itu kakak tingkat. Dua tingkat di atas kita.”

***

            Seusai makan malam, Caca masuk ke dalam kamarnya dan saat itulah waktunya menghibur diri. Facebook. Siapa sih yang tidak tahu fb? Pasti tahu. Bagi Caca, ini hanya sekedar merefleksikan diri saja. Fb terbuka dan sudah ada beberapa pemberitahuan dan satu permintaan pertemanan. Caca meilhat permintaan tersebut dan kemudian diterimanya. Setelah itu, Caca mulai berjelajah dalam fb.
            “Hoaaam, lemes amat ni mata. Kayaknya dia minta istirahat deh,” ujar Caca.
            Caca menutup laptop kemudian membiarkan raga dan matanya untuk sejenak menikmati malam.
            Keesokan harinya, Caca harus mengembalikan buku ke perpustakaan kampusnya. Dia sendiri. Berjalan melewati koridor kampus kemudian menaiki tangga kemudian bekamuk kiri dan sampailah ia di perpustakaan.
            “Untung aja belum tutup.”
            “Kalau tutup?”
“Mati aku.”
            Caca merasa aneh. Siapa yang bertanya padanya. Ia lihat di sekitarnya. Ternyata salah satu dosen yang telah bertanya begitu padanya. Betapa malunya ia telah menjawab seperti itu. Kemudian ia mengembalikan buku. Dan bisa kembali ke kelas dengan sedikit santai. Ketika ia keluar dari perpustakaan, ia melewati bangku panjang dan tak disangka sosok asing itu duduk di sana. Tak sengaja pandangan Caca mengarah ke sana, lebih tepatnya pada sosok itu. Parahnya lagi, sosok itu mengembangkan bibirnya dan mau tak mau Caca membalasnya.
            “Oh, my God. Aku mimpi ngga’ ya?” ucap Caca pada dirinya sendiri sambil berjalan.
            Caca tidak menyangka. Sosok itu tersenyum manis padanya. Sosok yang baru ia temukan selama ini. Caca sedikit aneh saja, selama kuliah di sini, kenapa baru kali ini bertemunya?
            “Kok dari kemarin dia terus sih,” ucap Caca pelan.
            “Haayyoo, dia siapa?”
            Tiba-tiba Rena mengagetkan Caca. Wajah Caca memerah. Ia tidak menjawab pertanyaan Rena sebab ia tak mau sahabatnya ini kembali membuatnya malu, sebab pernah suatu ketika Caca bercerita pada Rena bahwa ia mengagumi seorang cowok di kampusnya. Caca mengatakan siapa cowok itu dan alhasil setiap ada cowok itu, Rena membuat Caca salah tingkah. Dengan begitu, Caca tidak mau lagi banyak bercerita tentang cowok pada Rena.
            “Kalau aku bilang ngga’ mau ya ngga’ mau. Ngga’ pake’ maksa kali, Ren.”
            “Plis, sekali ini aja ya, Ca. Kalo bukan kamu siapa lagi, ‘kan cuma kamu sahabat terbaik aku,” bujuk Rena sambil tersenyum.
            “Kamu ‘kan tahu hari ni tuh aku nyiar. Ngga’ mungkin aku bolos, ntar yang ada gaji aku dipotong. Kamu seneng liat gaji aku kepotong?”
            “Tapi ‘kan sebelum kamu nyiar bisa, Ca. Bentar aja kok. Tolong aku, Ca.”
            Rena kembali meminta pertolongan Caca. Caca sebenarnya mau membantu hanya saja waktunya itu mendekati waktu siaran. Caca tidak mau dianggap tidak disiplin dalan bekerja. Namun Rena berusaha meyakinkan Caca bahwa pertolongan ini tidak akan mengganggu jadwal siaran Caca.
            “Bener-bener kamu. Dari kemarin nyusahin aku terus. Udah tau aku ada siaran. Inget ya, ngga’ pake’ lama,” tutur Caca.
            “Sip. Makasi ya, Ca,” jawab Rena penuh senyuman.
            Caca memenuhi permintaan Rena. Seribu kali Caca menolak, seribu kali pula cara Rena untuk tetap berusaha. Ya begitulah mereka.
            Waktunya tiba, Caca sudah sampai di tempat. Caca menunggu Rena di tempat yang telah dijanjikan. Namun Rena belum datang juga. Dalam masa menunggu itu, Caca didatangi oleh seorang cowok yang tingginya lebih dari Caca. Kemudian cowok itu memulai pembicaraan.
            “Nunggu siapa?”
            “Nunggu temen.”
            Cowok itu mengangguk. Kemudian terdiam. Hening. Tak lama kemudian, ia memulai lagi.
            “Temannya Rena?”
            “Iya. Kok tahu?”
            “Sebelumnya aku pernah lihat kamu bareng sama Rena. Waktu aku lihat kamu, kayaknya kamu juga lihat aku. Ya ngga’?”
            Caca tersenyum. Ia tak menjawab. Kemudian mereka berkenalan dan mulai berbicara dengan santai. Ternyata cowok itu kakak tingkat yang asing bagi Caca. Dodi namanya. Awalnya Caca merasa canggung tapi rasa canggung itu tak berapa lama di dalam tubuh Caca sebab Dodi bisa mencairkan suasana. Dan sepertinya mereka mulai akrab. Namun keakaraban itu hanya sebentar karena kedatangan Rena.
            “Sori ya, Ca. Tadi ban motor aku bocor jadi mesti dibaikin dulu,” ucap Rena.
            “Ya udah. Nih bajunya,” jawab Caca sambil menyerahkan baju pada Rena.
            Tak lama kemudian, ponsel Caca berdering. Tanda pesan diterima. Caca membaca pesan.
            “Ya ampun, telat aku. Aku pergi dulu ya, Ren. Mati aku.”
            Caca menerima pesan dari teman kerjanya. Caca memberi senyum pada Dodi. Kemudian Caca berlalu meninggalkan Rena dan Dodi.
            Dalam perjalanannya, Caca mengingat perkenalan dan percakapannya dengan Dodi. Tidak menyangka ia bisa berbicara dengan Dodi. Hanya berdua. Dodi terlihat tidak kaku ketika berbicara dan itu membuat Caca merasa nyaman. Caca jadi senyum-senyum sendiri.
           
***

            Kelas berakhir dan Caca belum bisa langsung pulang karena masih ada kelas, dua jam lagi. Menunggu kelas berikutnya, Caca dan teman-temannya duduk di taman sambil menikmati makanan ringan.
            “Ca, ntar aku duduk di deket kamu ya,” ucap Lili sambil nyengir.
            “Dasar, ada maunya aja baru deh deketan sama Caca,” sindir Toni.
            “Ciyee yang takut sama pak Jojo. Haha,” sambung Nino.
            Semua tertawa. Lili memang begitu orangnya. Setiap kelas pak Jojo, ia duduknya tidak jauh dari Caca sebab pak Jojo itu suka tiba-tiba saja bertanya tentang materi perkuliahan pada mahasiswanya. Berhubung Caca termasuk salah satu mahasiswa yang pandai, jadi Lili berharap Caca bisa menolongnya.
            Mereka masih larut dalam percakapan. Caca sesekali mengarahkan pandangannya ke sekitarnya dan ia melihat Dodi sedang berjalan menuju area kampus. Dodi bersama Fani. Mereka terlihat akrab, bahkan hangat. Caca mengalihkan pandangannya. Namun ia sesekali melihat mereka.
            “Denger-denger mereka baru jadian. Walaupun sebenarnya si Dodi udah lama suka sama Fani,” ucap Ira.
            “Serius kamu, Ra. Pantesan aja kemarin waktu aku jalan ke Mall, aku ngga’ sengaja ngeliat mereka berdua jalan bareng. Emang keliatannya kayak orang pacaran sih,” sambung Lili.
            Caca hanya sebagai pendengar yang baik. Ia tidak ikut dalam percakapan itu sebab ia memang tidak tau apa-apa. Jadi ia lebih memilih diam saja.
            Seakan langit akan runtuh dan Caca berharap tubuhnya terimpit oleh bumi. Caca tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Kenapa penglihatan tadi membuatnya terpaku?
            “Ternyata aku menyimpen rasa dan ngga’ mungkin aku ngelanjutin rasa ini,” tutur Caca dalam hati.
***

Dunia Hitam Putih

Saat kubuka mata, lagi
Aku kembali pada diri sendiri
Kembali pada dunia hitam putihku
Aku tak pernah menyesali jalan seperti ini
Aku menikmatinya

Dunia hitam putih, sebagian jiwa yang tumbuh dalam raga,
yang selalu tumbuh dengan semangatnya
yang tak pernah lelah mengelilingi jiwa bersama hamparan darah yang mengalir
dan yang selalu mengajarkanku bagaimana kepekaan itu
Aku selalu bergairah saat berada di dalamnya,
Tak ingin memejamkan mata sebab selalu ingin berlama-lama di sana
Walau kutahu, aku belum pandai menaklukkannya.

Hari-hari bersamanya
Hitam dan putih
selalu dan selamanya
Dunia hitam putih,
Bagian dariku
Dan aku bagian darinya

Perjalanan Rindu


Tertegun kujadinya melihat buku yang tergeletak di atas meja,
Buku itu belum terlalu tua untuk usia sepertiku,
Sebab baru setahun lalu ia lahir,

Terpikir aku untuk menghubungi kalian,
Tapi apa suara rintih ini masih terdengar?
Kemudian terpikir untuk melukis raut kalian,
Namun aku sadar, aku bukan pelukis
Lalu kulanjutkan untuk menulis surat,
Tapi apa alamat kalian masih yang kemarin?
Kulanjutkan lagi untuk duduk bersama kalian,
Tapi aku kembali sadar,
Masih ingatkah kalian dengan jalan setapak ini?

Lebih baik kuusaikan saja perjalanan rindu ini,
Dan aku tetap mengukir dunia kita.

Rabu, 08 Februari 2012

Sekedar Bercerita

Ingin kutuliskan berbagai hal tapi saat jariku mulai menari di atas keyboard ini, aku mulai terhenti, entah itu gugp atau apa, aku tak tahu. Aku merasa hilang apa yang ingin kuukir di atas kertas putih ini. Tapi akan kucoba mengingat dan mulai merangkai apa yang akan kurangkai dari tiap kata yang kupungut dengan tangan kananku.
        Awalnya kuingin bercerita tentang kehidupanku namun aku sendiri saja bingung harus mengutarakannya dari sudut mana. Lagi pula, terlalu panjang jika harus membicarakan hidupku dari kecil. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali membicarakan mengenai kehidupanku karena kupikir, banyak hal yang kualami itu dapat diambil hikmahnya. Tapi jika aku hanya membicarakan kehidupanku, kurasa kalian akan bosan. Bosan sejadi-jadinya. Mungkin kalian akan berpikir, pembicaraan ini tidak menarik atau bahkan tidak penting. Lagi pula, aku sendiri juga tidak akan memaksakan kehendakku untuk membicarakan tentang kehidupanku. Tapi sepertinya, gejolak ini tak bisa disembunyikan lagi dan aku harus mengeluarkannya. Kalian tenang saja. Tidak akan banyak, hanya sedikit. Aku, aku tak tahu bagaimana mencerminkan diriku sendiri sebab lebih baik orang lain yang bisa mengatakan aku ini bagaimana. Hanya saja, aku hanya bisa mengatakan bahwa aku ingin seperti embun yang bisa memberikan kesejukan dan seperti angin yang bisa dirasakan kehadirannya setiap waktu. Cukup itu saja yang dapat kukeluarkan.
        Gejolak itu hanya segelintir dari ribuan gejolak lainnya. Tapi tak apalah. Biarlah kalian yang meneruskannya. Aku akan memulai hal lain. Rasa. Mengenai rasa. Kalian pasti memiliki rasa, termasuk aku. Aku pernah memiliki rasa kesal, kecewa, kagum, sayang, dan sebagainya. Banyak orang banyak pula caranya. Cara tiap orang pasti berbeda ketika memendam sebuah rasa. Ada orang memiliki rasa kecewa pada seseorang, orang tersebut hanya bisa diam dan memendam rasa itu, tidak berani melampiaskan kekecewaannya. Atau mungkin, orang tersebut malah sebaliknya, melampiaskan kekecewaannya dengan cara memarahi orang yang telah mengecewakannya atau pergi ke pantai untuk berkawan ombak laut. Aku juga pernah melihat orang yang melapiaskan kekecewaanya hanya dengan berdiam diri di dalam kamar kemudian mendengar musik. Atau ada juga orang tersebut pergi ke suatu tempat makan kemudian ia memesan makanan kesukaannya dan makanlah ia, dengan begitu kekecewaannya terlampiaskan dengan makanan. Entahlah. Tiap orang berhak melampiaskan rasa yang dimiliki dengan caranya sendiri. Bagaimana dengan kalian?
         Ada rasa kecewa, ada juga rasa sayang. Kita pastinya juga memiliki rasa sayang dan cara melampiaskan rasa itupun berbeda-beda. Betapa bahagianya jika hidup ini diiringi rasa sayang, pastinya akan lebih indah dunia dan lebih berwarna. Kita itu harus sayang pada Sang Pencipta karena Dia telah menciptakan segala sesuatu untuk kita dan Dia tak pernah lelah menemani kita. Kita harus bersyukur atas segala nikmat-Nya. Kita juga pastinya sayang pada kedua orang tua kita karena merekalah kita ada di dunia. Dan mereka juga yang telah membesarkan kita, mengajarkan bagaimana hidup di dunia ini. Mereka juga telah mendidik kita agar menjadi manusia yang beradat dan bermoral. Terima kasih untuk seluruh orang tua yang ada di muka bumi ini, kalian adalah orang tua terhebat. Rasa sayang juga terhadap keluarga karena mereka adalah bagian dari kita. Selain itu, rasa sayang juga pada para sahabat dan orang-orang terdekat. Sahabat itu teman yang bisa dianggap seperti saudara, yang bisa mengerti keadaan kita dan ada di saat suka duka. Tertawa bersama dan menangis bersama. Sangat menenangkan jika bisa bersama selamanya. Dan untuk orang-orang terdekat, bisa dikatakan seperti orang-orang yang berada di sekitar kita. Misalnya guru, mereka juga merupakan orang tua kita di sekolah karena mereka juga mengajarkan kita tentang bagian dunia yang belum kita ketahui. Mereka membimbing dengan sabar dan tak pernah lelah, dan bahkan mereka rela menghabiskan apa yang mereka punya untuk kita. Mungkin ini terlihat terlalu berlebihan tapi inilah kenyataannya sebab aku pernah merasakan sentuhan itu. Terima kasih untuk para guru yang telah berjuang untuk kami anak bangsa.
        Berbicara tentang rasa sayang, ada juga yang memiliki rasa itu pada orang terkasih. Kalian pasti mengerti apa yang aku maksud. Bahkan rasa itu bukan lagi sayang melainkan cinta. Ya rasa cinta. Aku terkadang geli mendengar kata itu. Bukan maksudku untuk menghina atau apa, hanya saja aku tidak terlalu biasa bermain dengan rasa itu (supaya terlihat polos *_^). Cinta. Aku tidak begitu pandai mengartikan rasa itu jika dihubungkan dengan perasaan antara dua insan yang berlawanan jenis. Maaf. Bukanku tak bisa tapi sampai saat ini aku belum bisa mendeteksi apa itu cinta. Kata orang, cinta itu menyatukan dua insan yang saling menyayangi dan saling menerima satu sama lain. Tapi kata orang lagi, itu saja tidak cukup sebab cinta butuh perjuangan dan pengorbanan. Namun di sisi lain, ada hati yang bersuara, cinta itu membutuhkan kejujuran dan ketulusan. Ternyata banyak sekali pandanga tentang cinta. Dan aku masih belum menemukan apa itu cinta menurut versiku sebab ketika cinta menghampiri, aku masih seperti orang bodoh.
          Aku pernah mendengar sedikit rangkaian kata tentang cinta, bunyinya, “ cinta itu datang, sebab aku lelaki dan kau perempuan, duduk tak lebih rendah dan berdiri tak lebih tinggi.” Puitis sekali memang. Mungkin ada rangkaian kata yang lebih puitis lagi dari itu. Bisa kita lihat lagi pada puisi cinta yang dibacakan oleh Dian Sastro (pemeran Cinta pada AADC). Begini isinya:

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar Bosan
Aku dengan penat,Dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?

Puitis ‘kan? Apalagi ia membawakannya dengan memetikkan jemarinya pada gitar. Sungguh mempesona. Andai saja aku bisa bermain gitar dengan baik sambil membawakan sebuah puisi. Tapi sudahlah, itu hanya impian sesaat.
        Cinta. Bila kuceritakan mungkin tak ada habisnya dan tak ada ujung. Lain halnya dengan Agnes Monica sebab katanya, “Cintaku di ujung jalan.” Ya begitulah anak muda, selalu sibuk dengan dunia itu. Entah apa yang akan terjadi jika mereka hidup tanpa cinta. Aku berbicara di sini seperti sudah tua sekali rasany padahal sebenarnya aku sendiri pun masih terpincang-pincang menghadapi rasa itu. Masih terombang-ambing oleh perasaan. Masih merasa belum pantas. Masih mencari yang pas. Masih mengoreksi diri sendiri. Masih menata hati. Masihlah pokoknya. Tapi kenapa seakan-akan aku mencurahkan isi hati? Niat aku ini kan hanya sekedar bercerita. Ya tak apalah, hanya sedikit aku mencuri kesempatan biar kalian tau apa yang kurasakan. Kalian pernah disakiti? Aku mendengar jeritan hati kalian bahwa kalian pernah merasakan hal itu. Pasti perih rasanya. Setidaknya aku memiliki teman yang bernasib sama denganku. Maaf sekali lagi, aku telah mencuri kesempatan lagi. Bukan maksudku untuk mengumbar kesakitan tapi aku tidak sengaja. Lagi pula, mungkin secara tak sadar, aku pernah menyakiti orang lain. Maaf untuk orang yang pernah kusakiti, aku tak bermaksud seperti itu. Begitulah cinta. Jika tidak disakiti, malah menyakiti.
          Sepertinya hanya ini yang bisa tulis saat ini. Dan aku merasa kalian sudah bosan juga membaca tulisa yang tak tentu arah ini. Maaf jika rangkaian kata yang kurang berkenan. Untuk mengakhiri tulisan ini, aku artikan cinta itu
C   ~  erita
I   ~  ndah
N   ~  amun
T   ~  erkadang
A   ~  tit