Jumat, 26 September 2014

Ketika Randi menangis #FF100Kata

Sudah jam sebelas malam. Pasti ibu menunggu di ruang tamu sambil merajut, sedangkan adiknya terlelap dalam kamar, pikir Randi.

Namun, Randi tak mendapati ibunya di ruang tamu. Ah, mungkin ibu terlalu lelah.

Bergegas ke kamar ibu. Tak ditemui pula di sana.

Dan di kamar Randi.

Tergeletak.

Pucat.

Darah mengental dari hidung mancung ibunya.

"Ibu ... Ibu ... bangun, Bu! Kenapa begini, Bu?"

Randi mengguncangkan badan ibunya. Berharap beliau segera sadar.

Stok air dari matanya keluar juga.

Tersedu-sedu.

"Cut."

Tiba-tiba Intan mendekatinya bak sutradara ulung.

"Bangunlah, Bu. Natural sekali dan kakak pantas menjadi aktor terkenal," sambil menepuk bahu Randi.

***

Tema: tokoh utama pria POV orang ketiga.

Rabu, 17 September 2014

Bimbingan (lagi) #FF100kata

"Gak bisa? Yang butuh siapa? Kalau mau, saya tunggu satu jam lagi."

Tuuuttt. Terputus.

Hidup ini memang keras.

Sebulan lalu bimbingan di Kampung Radja. Lalu di Ancol. Dan sekarang ke Taman Rimba.

Sungguh aku menikmatinya.

"Telat 15 menit."

"Maaf, Bu. Tadi ..."

"Proposal kamu belum bisa diseminarkan. Proposal dia lebih matang."

Seketika seorang pria turun dari kyda birunya. Gio, temanku sewaktu putih biru, mendekatiku, memberikan sebuah cincin dan sebuah kertas, "Bisakah ada kita untuk masa yang akan datang?"

"Setuju gak kalau proposal aku lebih duluan di-acc? Ya gak, Ma?" ucap Gio sambil tersenyum padaku lalu melihat dosenku

***
Tema: taman hiburan
Kampung Radja: taman wisata di Jambi yang mempunyai banyak wahana yang menyenangkan.
Ancol: bisa disebut kawasan tanggo rajo. Berada di pinggir Sungai Batanghari dan berdekatan dengan rumah dinas Gubernur Jambi merupakan tempat rekreasi buatan yang menjadi tempat tongkrongan anak Jambi.
Taman Rimba: kebun binatang di Jambi; salah satu objek wisata yang tidak jauh dari bandar udara Sultan Thaha Syaifuddin.

Selasa, 16 September 2014

Si Ketty yang Malang

Plakkk!

Lina menampar Toni.

"Jadi maksud kamu deketin aku selama ini karna mau deketin Ketty? Iya?"

"Awalnya sih enggak. Tapi semenjak ngeliat Ketty, aku lebih tertarik sama dia. Dia lebih care," Toni tersenyum ke arah Ketty yang berada di samping Lina.

"Terus maksudnya ngirimin karangan bunga tiap hari apa? For KM? Bukan untuk aku? Kilau Marlina?"

"Ketty Manis. Maaf kalau kamu salah paham."

"Sok misterius. Kenapa pake singkatan? Kenapa gak langsung ditulis lengkap?"

Ketty terdiam. Merasa bersalah karena merebut gebetan Lina. Tapi Toni yang menggodanya.

Lina berlalu dari hadapan Toni dan Ketty.

Satu kata yang terucap dari Ketty. Meongg.

Sabtu, 13 September 2014

Tentang Melepaskan #FF100kata

Saat pepohonan lelah menghadapi matahari. Saat daun-daun mulai berguguran. Saat semua beranjak pulang, aku baru memulainya. Di sini. Di sebuah bangku taman.
"Menikmati taman menjelang malam seperti, apa enaknya? Sepi dan tak banyak suara," tanya seorang kakek sambil mendekatiku.
"Saya merasa nyaman, Kek. Di sini. Tentang keramaian yang hilang. Tentang orang-orang yang meninggalkan tempat ini. Saya belajar melepaskan apa yang baru saja digenggam."
"Ini taman hiburan, Nak. Gunakanlah masa mudamu dengan memanfaatkan tempat ini sebagai taman hiburan," jawab Kakek.
Justru aku memanfaatkan taman ini sebagai taman hiburan, Kek. Tapi dengan caraku sendiri. Jawabku dalam hati.
Beda sendiri boleh 'kan?
***
tema: taman hiburan

Kamis, 10 Juli 2014

tentang suatu kepergian

Kenapa kepergian menjadi momok yang menakutkan?
Ketika perpisahan menghampiri, selalu berpikir tidak akan bersua kembali.
Padahal belum tentu seperti itu, bukan?
Cobalah bayangkan bahwa perpisahan adalah jalan yang harus ditempuh tanpa ketakutan dan air mata dan jalan yang akan menemukan kebahagiannya sendiri.
Memang mudah berbicara, sukar saat menerapkannya.
Hidup terus berjalan.
Ketika ada yang datang, bersiaplah untuk melepaskan.
Seketika ada yang mendarat, entah kapan waktunya pun akan mengudara.
Dan saat perpisahan tiba, ingatlah bahwa akan ada pertemuan dalam bentuk yang berbeda, dalam keadaan yg akan membawamu lebih percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
Percayalah, kawan!



Seharusnya sejak awal menyadari bahwa ini tak boleh berlanjut
Kecenderungan ini dinikmati sebagai proses pendewasaan
Seharusnya sejak awal tak terlalu mendramatisir perasaan hingga keadaan tak semakin menyedihkan
Seharusnya sejak awal tak mengartikan simbol yang ada, bahkan terlalu indah saat diartikan
Seharusnya sejak awal tidak membiarkan kemungkinan-kemungkinan yang ditafsir akan nyata, suatu saat nanti
Seharusnya sejak awal tak ada khayalan yang terlalu dalam
Ya, memang seharusnya sejak awal sadar akan semuanya